Politik

SOCOTRA, Pulau Terdapat Darah Naga: Di Huni Makhluk Aneh

41
×

SOCOTRA, Pulau Terdapat Darah Naga: Di Huni Makhluk Aneh

Share this article

PIKIRANACEH.COM – Pulau Socotra adalah sebuah pulau yang terletak di Samudera Hindia, di lepas pantai Yaman. Pulau ini merupakan bagian dari Provinsi Hadhramaut di Yaman, meskipun memiliki status otonomi.

Pulau Socotra terkenal karena keindahan alamnya yang unik dan keanekaragaman hayati yang tinggi. Pulau ini dianggap sebagai salah satu tempat dengan flora dan fauna endemik terkaya di dunia.

Socotra juga merupakan situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 2008. Pulau ini menarik perhatian para wisatawan dan peneliti alam dari seluruh dunia.

Pulau Socotra merupakan salah satu tempat yang sangat unik di Bumi karena keberadaan mitos dan kehidupan tumbuhan yang tidak biasa. Namun, keindahan pemandangan alam di pulau tersebut semakin terancam akibat dampak dari perang sipil di Yaman, yang merupakan salah satu krisis kemanusiaan terparah di dunia.

Pulau Socotra terletak di Samudra Hindia, sekitar 340 kilometer lepas pantai Yaman, yang tidak jauh dari ujung Somalia di mulut Teluk Aden. Secara teknis, Socotra termasuk dalam wilayah kepulauan yang terdiri dari empat pulau, dengan Socotra sebagai pulau terbesar di antaranya.

Pulau ini terkenal dengan kekayaan keanekaragaman hayatinya yang unik, termasuk banyak spesies yang tidak ditemukan di tempat lain. Menurut UNESCO, sebanyak 37 persen dari 825 spesies tanaman di Socotra, 90 persen spesies reptilnya, dan 95 persen spesies siput daratnya tidak ditemukan di lokasi lain di Bumi.

Legenda mengatakan Socotra adalah tempat Cain dan Abel dilahirkan setelah Adam dan Hawa diusir dari Taman Eden. Menurut cerita setempat, Pohon Darah Naga muncul ketika Cain melakukan pembunuhan pertama dalam sejarah manusia. Cain merenggut nyawa Abel, menumpahkan darah ke tanah dan membiarkan pohon itu tumbuh seperti pupuk.

Pohon Darah Naga dikenal sebagai Dam al-Akhwain dalam bahasa Arab, yang jika diterjemahkan menjadi “darah dua bersaudara”. Bahkan nama Socotra sendiri konon berasal dari bahasa Arab, asal kata “suqs qutra” yang artinya “pasar darah naga”. Karena keindahan alamnya, pulau ini terkadang dikenal sebagai “Permata Teluk Aden” atau “Galápagos Samudra Hindia”.

Terlepas dari cerita dan spesiesnya yang aneh, pulau Socotra kini tengah dihadapkan pada kehancuran akibat konflik dan perubahan iklim. Sebuah penelitian tahun 2007 menyebut jumlah Pohon Darah Naga terancam berkurang, bahkan hingga setengahnya dalam abad ini sebagai akibat dari penggerusan pulau.

Selain itu, karena secara historis Socotra merupakan bagian dari Yaman, pulau tersebut sekarang terancam akibat perang sipil. Ditambah, saat ini Yaman jatuh di bawah pengaruh Uni Emirat Arab (UEA).

UEA mengerahkan pasukan militer ke pulau tersebut pada 2018 sebagai bagian dari intervensi yang dipimpin oleh Arab Saudi dalam Perang Saudara Yaman. Meski tidak ada pertumpahan darah, mereka secara efektif telah menginvasi pulau Socotra dan membangun kembali politik di sana.

UEA dituduh akan mengubah pulau Socotra menjadi resor pos militer sekaligus tempat wisata. Kritikus juga mengeklaim orang-orang UEA mencoba menyelundupkan tumbuhan dan hewan yang dilindungi ke luar pulau Socotra untuk tujuan perdagangan ilegal. Setelah bertahun-tahun terjadi konflik politik yang rumit, Southern Transitional Council yang didukung UEA akhirnya mengambil alih pulau.

Kini, Socotra masih terjebak dalam konflik tersebut, meski sebenarnya ada harapan. Terlepas dari masalah yang dihadapi Socotra dan Pohon Darah Naga yang ikonik, masih ada upaya konservasi berkelanjutan yang diharapkan dapat melestarikan kekayaan yang tersimpan di pulau aneh Socotra. ***