Politik

Pecinta Kopi! Yuk Nikmati Cita Rasa Kopi Aceh Pasti Ketagihan

47
×

Pecinta Kopi! Yuk Nikmati Cita Rasa Kopi Aceh Pasti Ketagihan

Share this article

PIKIRANACEH.COM – Tidak salah jika Aceh diberi gelar daerah istimewa. Bukan saja karena budayanya yang unik, tetapi juga kaya hasil alam dan tumbuh-tumbuhan yang beraneka ragam.

Salah satu yang paling istimewa dari Nanggroe Aceh adalah kopi. Ya, kopi Aceh. 

Sangking begitu spesialnya, tak jarang Anggota DPR RI Illiza Sa’aduddin Djamal menjadikan kopi sebagai hadiah atau oleh-oleh untuk rekan bahkan mitra kerjanya. Bahkan ia bawa keluar negeri saat melakukan kunjungan kerjanya.

Tidak banyak para ahli sejarah yang mau mendalami tentang sejarah dunia kopi. Padahal dari kopi bisa mengungkapkan banyak misteri mengenai sebuah budaya atau tradisi satu bangsa. Misalnya tentang asal-usul kopi Gayo.

Baca Juga: Sejarah Aceh yang Ternoda

Dari kopi Gayo, penduduk dunia bisa mengenal lebih jauh perihal budaya etnik Gayo, dimana tumbuhan kopi pertama kali ditemukan di Aceh. Melalui kopi, kita akan merasa dekat dengan petani pembudidaya kopi dan sebagainya.

Merangkum dari berbagai tulisan yang ada berikut riwayat singkat Kopi Gayo, Aceh.

Pada masa pendudukan, Belanda membuka puluhan hektare lahan kopi dan dikelola oleh penduduk di dataran tinggi Aceh. Kopi Gayo sendiri banyak ditanam di daerah Bener Meriah, Takengon, Gayo Lues, dan sekitarnya. 

Pemerintah Belanda saat itu menerapkan peraturan bahwa penduduk lokal hanya diperbolehkan mengonsumsi kopi Robusta. Sementara itu, varian kopi Arabika Gayo diekspor ke luar negeri. Faktor inilah yang menjadi awal mula kenikmatan kopi Gayo terkenal hingga ke seluruh dunia.

Sebaran Kopi Robusta sendiri berada di: Kabupaten Aceh Barat, Aceh Jaya, Pidie, Pidie Jaya, Aceh Utara, Bireuen, Aceh Tenggara, Aceh Timur. 

Sedangkan sebaran Kopi Arabika berada di : Kabupaten Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, sedikit di Pidie. Kopi Arabica Gayo, ada juga Kopi Arabica Cinta Mani, Bali, Kopi Arabica Toraja, Sulsel.

Kopi Robusta adalah Kopi dataran Rendah dengan elivasi (0-500 meter dari Permukaan Laut). Sedangkan kopi Arabica, Merupakan Kopi dataran tinggi. Elivasi 1200-2000 m dpl.

Hingga saat ini terdapat dua tempat tumbuhnya tanaman kopi Gayo, yaitu Takengon, Aceh Tengah dan Bener Meriah. Hamparan luas perkebunan kopi tumbuh di dataran seluas 95 ribu Ha dengan ketinggian kurang lebih 1200 meter. 

Dengan suhu udara yang rendah, sekitar 20 derajat celcius, di daratan tinggi ini cocok sekali untuk menumbuhkan beraneka varietas tananam kopi.

Kopi arabika dari dataran Tinggi Gayo, telah dikenal dunia karena memiliki cita rasa khas dengan ciri utama antara lain aroma dan perisa yang kompleks dan kekentalan yang kuat. International Conference on Coffee Science, Bali, Oktober 2010 menominasikan kopi Dataran Tinggi Gayo ini sebagai the Best No 1, dibanding kopi arabika dari tempat lain. 

Kopi Gayo Aceh terasa lebih fruity dan tidak pahit, tetapi sebenarnya setiap biji kopi memiliki rasa yang berbeda. Rasa yang tidak konsisten ini justru menjadi daya tarik tersendiri dari kopi Gayo.

Baca Juga: Ismail ‘Alaihissalam Anak yang Sangat Hebat

Selain itu, keunggulan kopi Gayo adalah karena merupakan kopi organik yang memiliki rasa khas yang sedap. Seperti diketahui bahwa kopi organik hanya bisa diproduksi di lahan yang memiliki tingkat kesuburan yang tinggi serta memiliki curah hujan cukup dan lingkungan yang mendukung.

Sementara dari harga yang ditawarkan, harga kopi Gayo bervariasi tergantung jenisnya dan dapat ditemukan di mana saja. Harga kopi Arabika Gayo Bubuk Kopi 1 kg sekitar Rp140 ribu sampai Rp300 ribu. Harga yang masih relatif terjangkau oleh konsumen lokal dan domestik.

Kopi Arabika Gayo sudah menjadi mata pencaharian pokok sebagian besar masyarakat Gayo. Wilayah ini salah satu sentra tanaman kopi Arabika yang sangat berkualitas di Indonesia.

Di daerah tersebut kopi ditanam dengan cara organik tanpa bahan kimia sehingga kopi ini juga dikenal sebagai kopi hijau (ramah lingkungan). Kopi Gayo disebut-sebut sebagai kopi organik terbaik di dunia.***