PIKIRANACEH.COM – Sebagai orang yang beriman hendaknya ikhlas dalam beribadah kepada Allah SWT tanpa menyekutukannya dengan suatu apapun. Bertaqwa dengan sebenar-benar taqwa.
Demikian dikatakan oleh Tgk Ridha Fatahillah dalam khutbah jumat di Masjid Babul Maghfirah, Gampong Tanjung Selamat, Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh Besar, Jumat (22/06/2023).
Baca Juga: Melayu Aceh Dukung Warga Pulau Rempang dan Galang Pertahankan Kampung Tua
Dengan mengutip Quran Surat Ali Imran, ayat 102, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 102)
Lewat ayat ini, Tgk Ridha Fatahillah melanjutkan, Allah SWT mengingatkan agar setiap orang yang beriman agar benar-benar bertakwa kepada Allah dan jangan mati kecuali dalam keadaan muslim. “Allah Swt menginginkan kita berkekalan dalam taqwa,”
Bertakwa artinya melakukan segala perintahnya dengan ikhlas dengan mengharap ridha Nya dan menjauhi segala apa yang dilarang.
“Takwa adalah kata yang mudah diucapkan namun berat dalam timbangan amal dihadapan Allah SWT,” ucap Tgk Ridha Fatahillah.
Takwa letaknya di dalam hati. Sebagaimana diperkuat oleh hadis Rasulullah Saw. Beliau bersabda: “Takwa itu terletak di sini”, sambil beliau menunjuk ke dada/hati beliau tiga kali (HR. Muslim).
Sesungguhnya ketakwaan itu, jika memang telah bersarang di dalam hati, maka akan tampak pada anggota tubuh dengan tidak bermaksiat. Maka ketika hati seseorang baik, baiklah seluruh anggota tubuhnya. Ia akan bertakwa kepada Allah SWT.
Baca Juga: Produktifitas Sawah di Banda Mulia Rendah, Ini Penyebabnya
Begitu pula jika rusak hati seseorang karena penyakit batin, maka rusaklah seluruh anggota tubuhnya sehingga ia senantiasa akan bermaksiat kepada Allah SWT.
“Dan tidak ada seorang dokter spesialis pun yang dapat menyembuhkan penyakit batin. Hanya diri kita sendiri lah yang mampu melakukannya dengan memiliki tekad yang kuat, perlahan-lahan penyakit hati itu akan hilang,” tegasnya.
Ketahuilah, tambah Tgk Ridha, diantara seluruh penyakit hati, terdapat satu penyakit yang namanya riya’. Riya adalah menampakkan amal atau ibadah kita kepada orang lain dengan tujuan mengharapkan pujian dan penghargaan dari manusia.
Orang yang riya itu beribadah kepada Allah SWT namun tidak semata-mata karena Allah Swt dalam ibadahnya. Jika ia melakukan shalat, shalatnya ingin dilihat oleh orang lain dan mengharapkan pujian dari manusia, di dalamnya ada riya’.
Begitu pula kalau pergi umrah dan haji, ingin dilihat orang lain dan mengharapkan pujian manusia, di dalamnya ada riya’. Pun ia bersedekah agar dikatakan sebagai orang dermawan oleh orang lain, di dalamnya ada riya’.
Jika melakukan ibadah yang ada riya’ di dalamnya, bukan saja tidak diterima bahkan mereka akan diseret ke dalam neraka kelak.
Dalam sebuah kisah diceritakan, ada sekelompok orang dari negeri Syam datang menjumpai Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu. Salah seorang dari perwakilan kelompok tersebut kemudian bertanya kepada Abu Hurairah dan meminta nasehat, “wahai Abu Hurairah sampaikanlah kepada kami sebuah hadis yang engkau mendengarnya langsung dari Rasulullah Saw,”
Namun sebelum abu Hurairah memberitahukan hadis tersebut, ia menangis hingga tak sanggup menahan, dan akhirnya jatuh pingsan.
Peristiwa pingsannya Abu Hurairah terjadi hingga tiga kali. Setelah terbangun dari pingsan yang ketiga kalinya dan sedikit agak lama dari dua sebelumnya. Abu Hurairah pun berkata:
Baca Juga: Menghidupkan Sifat-Sifat Terpuji Baginda Rasulullah Saw
“Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Sesungguhnya orang pertama yang diadili pada hari kiamat ialah seorang laki-laki yang mati syahid, nikmat-nikmatnya dihadapkan kepadanya maka ia mengenalinya. Allah bertanya: Apa yang engkau lakukan dengannya? Ia menjawab: Saya berperang di jalan-Mu sampai saya mati syahid.
Allah berfirman: Engkau bohong, tetapi engkau berperang supaya disebut sebagai pemberani dan sudah disebut begitu. Lalu ia diperintahkan, maka ditariklah ia di atas wajahnya lalu dicampakkanlah ia ke dalam neraka.
Dan seorang laki-laki yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya dan ia membaca al-Quran. Lalu didatangkanlah ia dan dihadapkanlah kenikmatan-kenikmatannya sehingga ia mengenalinya. Allah bertanya: Apa yang engkau lakukan dengannya? Ia menjawab: Saya mempelajari ilmu dan mengajarkannya dan saya membaca al-Quran di jalan-Mu.
Allah menjawab: Engkau bohong, tetapi engkau mempelajari ilmu supaya disebut sebagai seorang ilmuwan dan engkau membaca al-Quran supaya disebut sebagai seorang qari dan sudah disebut begitu. Lalu ia diperintahkan, maka ditariklah ia di atas wajahnya lalu dicampakkanlah ia ke dalam neraka.
Dan seorang laki-laki yang dilapangkan dan diberi berbagai macam harta kekayaan oleh Allah. Lalu didatangkanlah ia dan dihadapkanlah kenikmatan-kenikmatannya sehingga ia mengenalinya. Allah bertanya: Apa yang engkau lakukan dengannya? Ia menjawab: Tidak ada jalan yang Engkau suka untuk saya berinfak di dalamnya melainkan saya telah berinfak untuk-Mu.
Allah berfirman: Engkau bohong, tetapi engkau melakukan hal itu supaya disebut dermawan dan sudah disebut begitu. Lalu ia diperintahkan, maka ditariklah ia di atas wajahnya lalu dicampakkanlah ia ke dalam neraka.” (HR. Muslim)
Begitulah, “Rasulullah Saw bahkan mengatakan itulah tiga orang pertama masuk neraka,” tutur Tgk Ridha Fatahillah.
Sebab itu marilah kita introspeksi diri dalam beribadah kepada Allah SWT. Tanyakan pada diri masing-masing mengapa dan untuk apa setiap ibadah yang kita lakukan? Benarkah semata-mata untuk mengharapkan ridha Allah? Ataukah untuk mengharapkan pujian manusia?
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “… Maka barang siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia menyekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahf 18: Ayat 110)
“Beribadahlah dengan semata-mata mengharapkan ridha Allah SWT, dan semoga kita dimasukkan ke dalam syurga Nya di akhirat kelak, serta dapat berjumpa dengan Allah SWT. Bisa melihat keagungan Allah SWT di dalam surga merupakan nikmat terbesar yang diperoleh oleh orang-orang bertakwa,” tutupnya.***












