Politik

Pasca Gempa Mematikan, Antakya Turki Berubah Seperti Kota Hantu

95
×

Pasca Gempa Mematikan, Antakya Turki Berubah Seperti Kota Hantu

Share this article

ACEHUPDATE.COM | Turki – Pasca dilanda Gempa besar dan  tiga kali gempa susulan, Antakya yang terletak di provinsi Hatay Turki, kini berubah seperti kota hantu. 

Seperti dikutip dari REUTERS/ ANTAKYA, Turki, 22 Februari 2023 Truk atau kendaraan bantuan dan ekskavator tampak berbaris di jalan sepi lalu lintas di Antakya Turki pada Selasa malam, pasca  gempa dua minggu yang lalu di kota yang sebelumnya ramai.

Saat memasuki malam kondisinya sangat gelap gulita karena tanpa penerangan, namun sesekali jika ada kendaraan melintas  lampu depan kenderaan tersebut menyoroti gundukan puing bingkai jendela pecah dan tulangan besi beton. Selain itu, kilatan lampu merah dan biru dari kendaraan militer dan polisi yang terpantul ke arah  depan bangunan miring bergerigi menambah mencekamnya Kota Antakya disaat malam hari.

Dalam keheningan malam terdengar suara ekskavator para petugas penanggulangan bencana menggema mencakar puing-puing bangunan masih mencari sosok manusia atau jasad yang mungkin masih tertimbun dalam puing.

Saat itu para petugas  sedang mencari jasad seorang ibu dan anaknya diperkirakan masih berada dibawah puing-puing usai  gempa mematikan melanda Antakya.

Penggalian oleh para petugas terkadang berhenti, terlihat para petugas tersebut seperti memeriksa dan memastikan apakah ada jasad manusia.

“Semua sudah orang pergi,” kata Mehmet Ay, salah seorang korban gempa yang selamat berusia 50 tahun yang telah tinggal di Antakya sepanjang hidupnya, dia  merupakan penduduk yang masih tersisa dan bertahan hidup 

Dari kejauhan, pemandangan kota dari gedung  tinggi kini tampak bergelombang hancur akibat gempa bumi. Nun dari jau sebuah Jembatan yang runtuh terlihat seperti bongkahan sebagian masuk kedalam air sisanya teronggok ditepi sungai, tampak di blokir tentara dijembatan tersebut.

Ay, salah seorang warga yang selamat mengatakan, dulu  jalanan tempat dia  berdiri ramai dilalui seperti surga, namun hancur semua dalam satu malam ” katanya 

Di Pinggir jalan tersebut beberapa papan reklame tergeletak ke tanah dan papan nama yang berserakan menjadi puing, sebagai bukti dulu sebelum gempa ada toko-toko yang selalu ramai dikunjungi sehingga memenuhi jalan-jalan yang sibuk.

Ay bersama istrinya Fatmeh dan putri mereka untuk sementara berlindung di salah satu kamp yang didirikan untuk memberikan perlindungan sementara bagi mereka yang selamat dan kehilangan rumah. Sebuah generator tampak memberi penerangan, sejumlah orang  tampak berkumpul mengelilingi sekitar tungku kayu untuk menghalau dinginnya malam di luar tenda mereka.

“Kita tidak bisa meninggalkan kamp, sulit untuk berjalan-jalan itu sangat berbahaya, ke mana pun Anda pergi karena bangunannya berbahaya sewaktu-waktu, sebelum Anda menyadarinya akan runtuh menimpa Anda “, katanya 

Sementara sebelumnya, saat matahari terbenam di alun-alun di sebelah balai kota, tentara, sukarelawan, dan penyintas berbaris di truk makanan dan bengkel untuk makan malam dan minum teh.

Di sebuah bundaran, terlihat patung pendiri Turki modern Mustafa Kemal Ataturk di atas kuda masih berdiri. Sementara tepat di bawahnya, sebuah plakat marmer tulisan  tentang sejarah provinsi Hatay menjadi bagian dari Turki terlihat tergeletak hancur di tanah.

“Bencana ini menimpa kita semua,” kata Saleem Fawakirji, seorang pencuci piring berusia 57 tahun yang telah tinggal di Antakya selama 12 tahun setelah melarikan diri dari Suriah. “Orang kaya dan miskin sama saja,” tambah istrinya, Walaa.

Pasangan itu, memiliki dua putri dan seorang putra, mereka selamat dari gempa 6 Februari 2023 lalu dengan cara merangkak keluar dari celah kecil di reruntuhan, namun Putra sulung mereka tidak berhasil keluar.

Fawakirji mengatakan, dia sekeluarga tidak memiliki rencana untuk pergi meninggalkan kota yang sepi itu. 

“Lihat bagaimana Tuhan telah menyelamatkan kita semua, kecuali anakku. Mengapa kita mengambil risiko sekarang?” katanya 

Ay juga mengatakan, dia berencana untuk tetap tinggal walaupun untuk membangun kembali tempat tinggalnya membutuhkan waktu bertahun-tahun.  Namun sebagai pekerja konstruksi dia optimis akan bisa membangun kembali tempat tinggalnya.

“Insya Allah akan lebih baik dari sebelumnya”, tutupnya optimis