Politik

Kinerja Penanganan Stunting di Kabupaten Aceh Besar Progresif

46
×

Kinerja Penanganan Stunting di Kabupaten Aceh Besar Progresif

Share this article

PIKIRANACEH COM – PJ Bupati Aceh Besar Muhammad Iswanto mengatakan prevelensi stunting di Aceh Besar pada tahun 2022 turun turun sebesar 5,4 persen pada tahun 2022 yakni dari 32,4 persen 2021 menjadi 27 persen. 

Data ini sesuai dengan laporan dari studi status gizi Indonesia (SSGI) yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Ini merupakan sebuah capaian yang sangat bagus oleh seorang Muhammad Iswanto, meski hanya penjabat namun dengan dukungan SKPD dan seluruh stakeholder, angka stunting di Aceh Besar bisa ditekan.

Baca Juga: Berdasarkan IPM, Ini Lima Daerah Terpintar di Aceh

Meskipun demikian, “kerja keras belum berakhir, kendati terjadi penurunan tetapi prevalensi stunting di daerah kita masih tinggi,” kata Fahmi SE, Tokoh masyarakat Gampong Tanjung Selamat.

Sebuah artikel yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan RI edisi Februari 2023 menyebutkan, stunting itu dapat dianalogikan seperti kanker yang ada stadiumnya. Demikian digambarkan dalam tulisan tersebut.

Bila sudah terjadi stunting dan terlambat penanganan apalagi jika kanker sudah berada di stadium 4, maka kemungkinan untuk sembuh susah sekali. Rata-rata kemungkinan hanya 5% yang dapat disembuhkan. 

Namun, kalau benar-benar dedikasi untuk mengurusi dan melakukan perawatan secara intensif di rumah sakit, paling tinggi 20% yang dapat disembuhkan.

Fase penanganan stunting

Berdasarkan sebuah literatur dari jurnal ilmiah tentang kesehatan merilis bahwa fase penanganan stunting ada tiga tahap yang harus diketahui yaitu ; fase pra nikah, fase kehamilan, masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan dan masa pertumbuhan.

Oleh sebab itu penting sekali bagi setiap kita untuk memperhatikan permasalahan stunting ini dan langkah pencegahan atau penanganannya jika sudah terpapar.

Peran keluarga sangat fundamental dalam menangani anak-anak yang mengalami gizi buruk dengan tubuh kerdil karena stunting.

Menurut Henny Suzana Mediani, PhD dari Universitas Padjadjaran mengungkapkan keluarga adalah bagian dari masyarakat, merupakan faktor penentu bagaimana kita berusaha melakukan pencegahan dan penanganan stunting.

Peran keluarga yang sangat mempengaruhi pencegahan stunting dimulai pada usia anak-anak masih balita, batita, remaja, hingga menuju usia pernikahan. Pada fase ini penting mereka diberikan asupan gizi yang cukup dan seimbang agar tumbuh kembangnya semakin optimal.

Selanjutnya ketika menginjak pernikahan ataupun berumah tangga, pasangan subur harus memastikan dirinya dalam keadaan sehat dan tidak mengalami masalah atau berpotensi stunting.

Memastikan diri terbebas dari stunting dapat dilakukan pemeriksaan ke dokter ataupun tenaga medis yang diakui. Jika perlu minta surat bebas stunting dari dokter bersangkutan sebagai bukti otentik.

Dalam hal ini kantor urusan agama (KUA) yang ditugaskan untuk memfasilitasi pernikahan dapat menjadi surat keterangan bebas sebagai syarat administrasi tambahan bagi pasangan yang hendak melangsungkan pernikahan.

Begitu pun saat kehamilan, ibu hamil (bumil) senantiasa mengkonsumsi makanan-makanan bergizi alami dan menjaga pola makannya dengan baik. Sering memeriksa kesehatan dan konsultasi dengan petugas kesehatan maupun dokter terdekat untuk mendapatkan edukasi dan informasi kesehatan.

Baca Juga: Desta dan Natasha Rizki Resmi Bercerai, Hak Asuh Anak Jatuh Kepada Natasha Rizki

Selanjutnya hal-hal yang perlu dijauhi agar tidak menggangu janin yang dikandungnya seperti tidak merokok (perokok aktif), juga menjauhi orang merokok (perokok pasif), karena keduanya berakibat tidak baik bagi si jabang bayi.

Hal serupa juga dinyatakan Nopian, Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK) BKKBN RI yang menyebut, fase 1.000 HPK (Hari Pertama Kehidupan) merupakan periode pembentukan organ bayi, termasuk otak, pertumbuhan panjang badan, serta perkembangan anak yang sangat cepat.

Pada fase ini pembentukan saraf otak terjadi 1.000 kali setiap detik yang membuat otak anak di usia ini dua kali lebih aktif dibanding otak dewasa.

Oleh karena itu kita harus memperhatikan setiap fase penanganan stunting secara cermat agar intervensi stunting dapat dilakukan sejak dini. Sebab, seperti sudah disebutkan di atas, jika sudah terkena, maka sulit untuk disembuhkan. Ibarat kanker yang sudah stadium empat, tidak ada waktu lagi.***