Politik

Pengkhianat dan Musang Berbulu Domba

88
×

Pengkhianat dan Musang Berbulu Domba

Share this article

PIKIRANACEH.COM – Secara lugas, tegas, dan keras, mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam kapasitasnya sebagai elit Partai Demokrat menyebut Bacapres Anies Rasyid Baswedan sebagai Pengkhianat dan Musang Berbulu Domba.

Lantas kita sebagai rakyat biasa, bagaimana menilai gaya politik dan komunikasi politik bapak bangsa itu, senior politisi, dan tokoh nasional dalam kaitannya dengan ketauladanan? Apakah benar politisi Indonesia sedang minus etika politik?

Secara konseptual etika politik dapat dikatakan sebagai praktik pemberian nilai terhadap tindakan politik dengan berlandaskan kepada etika. Etika memberikan dasar moral kepada politik. Dan etika adalah soal kebijakan.

Baca Juga: Sorot Anies dan Cak Imin di Pilpres 2024, Media Asing Ungkap Hal Tak Terduga Ini

Ujaran keras SBY untuk Anies tersebut dilontarkan setelah adanya kepastian Anies Baswedan menggandeng Muhaimin Iskandar alias Cak Imin sebagai Bacapres yang diusung kubu koalisi KPP (Koalisi Perubahan dan Persatuan) besutan Partai Nasdem pada pilpres 2024.

SBY menuding Anies Baswedan dan Surya Paloh secara tidak langsung telah melakukan pengkhianatan politik terhadap Partai Demokrat dengan melanggar kesepakatan yakni Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai Bacawapres. Namun dibatalkan sepihak oleh Anies dan memilih Muhaimin Iskandar.

Tidak hanya Partai Demokrat (PD), kabar Cak Imin menjadi pasangan Anies cukup mengagetkan sejumlah pihak, dan kemudian menimbulkan pro dan kontra dikalangan masyarakat. Bahkan PD yang sejak awal mendukung Anies kini berbalik badan meninggalkan Nasdem dan partai PKS atau mencabut dukungan.

Perubahan peta jalan memenangkan Anies dari kubu KPP sepertinya bersifat mendadak. Diluar dugaan dan mengalahkan peristiwa kenaikan harga BBM di hari yang sama. Sorotan media semuanya mengarah pada dinamika politik Koalisi Perubahan dan Persatuan.

Belakangan muncul berbagai spekulasi dari para pengamat politik terkait perubahan peta jalan tersebut. Ada yang menduga ini adalah bagian dari campur tangan Istana untuk menggagalkan Anies menuju kursi presiden. Sebaliknya, ada pula yang mengatakan itu adalah dinamika politik yang wajar-wajar saja.

Tetapi tidak begitu halnya dengan SBY dan Demokrat. Ini merupakan hal yang sangat serius. Sebab itu diksi pengkhianat dipilih dan dialamatkan kepada Anies yang konon SBY menyebutnya Musang Berbulu Domba. Demokrat mengaku di prank oleh sosok yang tidak jujur dan tidak amanah. 

Kalimat SBY sangat tajam. Diksi yang dipilih terlalu ofensif bagi orang sekelas mantan presiden, yang hanya untuk sekedar menjewer Anies. Akibatnya, publik menilai Demokrat terlalu reaktif dan over thinking. Celakanya lagi ucapan SBY itu kemudian dikonfirmasi dengan pencitraan yang telah dibangun selama ini.

Baca Juga: Dukungan Terus Mengalir, Kalangan Pesantren Sebut AMIN Pasangan Ideal, Ini Alasannya

Padahal yang kita tahu SBY adalah orang yang sangat santun ketika berbicara atau berpidato didepan publik. Jarang sekali ia memiliki kata-kata yang buruk. Bahkan SBY dikenal dengan ajaran politik beretika yang kerap ia digaung-gaungkan.

Ataukah di dalam demokrasi Indonesia khususnya ketika perebutan kekuasaan dilakukan, aspek etika politik itu tidak diperlukan lagi?

Namun perlu dicatat, menghilangkan etika dari kehidupan politik berimplikasi pada praktek politik yang bersifat Machavellistis, yaitu politik sebagai alat untuk mnelakukan segala sesuatu, baik atau buruk tanpa mengindahkan kesusilaan, norma dan berlaku seakan bernuansa positivistik (bebas nilai).***