Boikot Produk Israel, Gerakan BDS Mulai Berdampak
PIKIRAN ACEH – Ajakan produk Israel mulai berdampak dan mendapat perhatian, boikot produk Israel ini mulai gerakan dari Boycott, Divestment and Sanctions ,(BDS) yang artinya Boikot, Divestasi, dan Sanksi terhadap Israel
Gerakan BDS mencuat akibat meningkatnya konteks eskalasi kekerasan Israel terhadap Gaza yang menyabbakan ribuah warga Gaza meninggal dunia terutama anak-anak.
Gerakan BDS secara internasional ini dikampanyekan aktivis pro Palestina di berbagai Negara di belahyan dunia.
Saat ini, gerakan BDS telah membuktikan dampaknya dalam mengkampanyekan isu-isu kekerasan di Gaza. Salah satu contohnya adalah ketika bintang pop Lorde membatalkan konsernya di Tel Aviv pada Desember 2022 karena mendapat tekanan dari aktivis BDS.
Baca : Jubir Brigade Al-Qassam: Para Pejuang Berhasil Hancurkan 22 Ranpur Zionis Israel
Apa itu BDS?
Dalam situs bdsmovement.net, BDS merupakan singkatan dari Boycott, Divestment and Sanctions, yang artinya Boikot, Divestasi, dan Sanksi.
Dilansir Pikiran Rakyat.com, Gerakan ini bertujuan untuk melakukan boikot produk Israel. Boikot yang dijalankan oleh gerakan BDS tidak hanya menargetkan perusahaan dan produk Israel, melainkan juga perusahaan non-Israel yang dianggap terlibat dalam penindasan terhadap warga Palestina.
Selain itu, gerakan BDS berusaha untuk mendorong bank, dewan lokal, gereja, dana pensiun, dan universitas untuk menarik investasi mereka dari Israel dan semua perusahaan, baik Israel maupun internasional, yang mendukung kebijakan apartheid Israel.
Gerakan ini juga mengupayakan tekanan pada pemerintah agar mematuhi kewajiban hukum mereka untuk menghentikan kebijakan kontroversial terhadap Israel.
Gerakan BDS dicanangkan oleh 170 serikat pekerja Palestina, jaringan pengungsi, organisasi perempuan, asosiasi profesional, komite perlawanan rakyat, dan badan masyarakat sipil Palestina lainnya
Ajakan untuk melaksanakan BDS pertama kali muncul pada tahun 2005. Ketika gerakan ini mulai menyebar, lebih dari 4 juta pengungsi Palestina telah terusir sejak berdirinya negara Israel, menurut Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk pengungsi Palestina.
Setahun sebelumnya, Mahkamah Internasional menyatakan bahwa tembok pemisah yang dibangun oleh Israel di sepanjang Tepi Barat Palestina melanggar hukum internasional.
Menurut laporan di situs BDS, ada berbagai kelompok di Amerika Serikat yang mendukung BDS, termasuk Suara Yahudi untuk Perdamaian, Sosialis Demokratik Amerika, dan Kampanye AS untuk Hak-Hak Palestina. Beberapa tokoh masyarakat yang menyatakan dukungan mereka terhadap BDS termasuk Rep. Cori Bush (D-MO), musisi Lauryn Hill, dan penulis seperti Sally Rooney, Naomi Klein, dan Arundhati Roy.
Tiga Tuntutan Gerakan BDS Terhadap Israel
Gerakan BDS Palestina mendesak tekanan non-kekerasan terhadap Israel, hingga Israel mematuhi hukum internasional dengan memenuhi tiga tuntutan:
Menghentikan kolonisasi tanah Arab dan membongkar tembok pemisah: Israel telah mengambil alih tanah dan memaksa warga Palestina untuk hidup dalam kondisi terisolasi di tengah pos pemeriksaan, pemukiman, menara pengawas, dan tembok apartheid ilegal. Gaza, yang telah dikelilingi oleh Israel dan diubah menjadi penjara terbuka terbesar di dunia, sering menjadi target serangan besar-besaran yang dianggap kejahatan terhadap kemanusiaan.
Memberikan hak penuh kepada warga Palestina terhadap Israel: Separuh warga Israel adalah warga Palestina yang tetap berada dalam wilayah yang sekarang menjadi Israel sejak tahun 1948. Mereka mengalami diskriminasi dalam berbagai aspek kehidupan mereka. Pemerintah Israel secara rutin mendorong pengusiran paksa komunitas Palestina di Israel dari tanah mereka, dan pemimpin Israel secara terbuka menghasut kekerasan rasial terhadap mereka.
Mengizinkan warga Palestina kembali ke rumah mereka: Sejak tahun 1948, Israel terus melakukan kekerasan terhadap sebagian besar penduduk asli Palestina. Upaya ini dilakukan untuk menguasai sebanyak mungkin tanah dan menghalangi warga Palestina untuk kembali ke rumah mereka. Akibat dari pengusiran paksa tersebut, lebih dari 7,25 juta warga Palestina tidak memiliki hak untuk kembali ke rumah mereka, semata-mata karena bukan keturunan Yahudi.
Hingga saat ini, gerakan BDS melibatkan berbagai tindakan, seperti boikot terhadap produk dan perusahaan tertentu, untuk meminta pemerintah memberlakukan sanksi dan embargo terhadap Israel (*)




