Politik

Mantan Kepala BRR Aceh Kuntoro Mangkusubroto Meninggal Dunia, Sosok di Balik Pemulihan Pasca Tsunami

74
×

Mantan Kepala BRR Aceh Kuntoro Mangkusubroto Meninggal Dunia, Sosok di Balik Pemulihan Pasca Tsunami

Share this article

PIKIRANACEH.COM | NANGGROE – Mantan Kepala Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias yang juga eks Menteri Pertambangan dan Energi Kuntoro Mangkusubroto meninggal dunia pada usia 76 tahun.

Kuntoro Mangkusubroto tutup usia pada hari ini, Minggu (17/12), pukul 01.03 WIB.

 Informasi tersebut dikonfirmasi oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Betul. Innalillahi wainna ilaihi roji’uun. Kami turut berduka cita. Semoga almarhum bapak menteri Kuntoro Mangkusubroto husnul khotimah,” ujar Kepala Biro KLIK Kementerian ESDM Agus Cahyono Adi saat dimintai konfirmasi, Minggu.

Kuntoro tutup usia sekitar pukul 01.30 WIB dini hari tadi di RSCM Kencana.

Kuntoro meninggal di usianya yang menginjak 76 tahun.

Adapun jenazah akan disemayamkan di rumah duka Jalan Kesemek S-2 Komplek Kalibata Indah, Rawajati, Jakarta Selatan.

Dikutip dari Perpusnas, Kuntoro dibesarkan dalam keluarga terpelajar. 

Ayahnya seorang pengacara dan ibunya dosen bahasa Inggris di Universitas Sudirman, Purwokerto.

Dia menjalani pendidikan SD hingga SMA di kota kelahirannya. 

Lalu masuk jurusan Tehnik Industri ITB dan lulus tahun 1972.

Setelah lulus, dia langsung diangkat menjadi dosen di almamaternya. 

Kemudian Kuntoro meneruskan pendidikannya di bidang industrial engineering, Stanford University (1976).

Dari sekian jabatan yang pernah melekat, Kuntoro juga sempat menjadi Kepada Badan Pelaksana-Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias pada 2005, pasca tsunami Aceh 2004.

Pada tahun 2005, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengangkatnya menjadi Kepala BP-BRR Aceh Nias (Kepala Badan Pelaksana Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Wilayah dan Kehidupan Masyarakat Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kepulauan Nias, Provinsi Sumatera Utara).

Usai ditunjuk menjadi Kepala BRR, ia tak langsung berangkat. Saat itu, Kuntoro menyampaikan keinginan dia ke pemerintah untuk memiliki perlindungan politik mengingat Aceh sedang berkonflik, perang, dan hancur.

Kuntoro bisa jadi menjadi orang paling pusing saat melakukan pembenahan setelah bencana. Beribu urusan ia kerjakan, dari yang memang kewenangan hingga bukan bagiannya.

Selama mengurus rehabilitasi dan konstruksi, Kuntoro juga pusing dengan konflik yang berlangsung antara Gerakan Aceh Merdeka(GAM) dengan TNI.

Meksi perdamaian di Aceh sudah diteken pada Agustus 2005, tetapi ketegangan antara mantan kombatan dan tentara masih terasa.

Ia sampai-sampai harus menemui pemimpin tertinggi GAM Hasan Tiro di Swedia untuk memperoleh restu darinya pada 2007.