PIKIRANACEH.COM | KULINER – Ibukota kembali kedatangan pendatang baru di dunia kuliner. Kali ini, giliran Warung Lampoh Kupi Kemang yang resmi menyapa warga Jakarta pada awal November 2025. Berlokasi di kawasan asri dan elit Kemang, Jakarta Selatan, warung ini hadir membawa nuansa Aceh yang hangat dan bersahabat, dengan konsep minimalis, teduh, dan ramah di kantong.
Berdiri di atas lahan seluas 1.500 meter persegi, Warung Lampoh Kupi menawarkan suasana berbeda dari kafe pada umumnya. Area terbuka yang hijau, lengkap dengan ruang ber-AC untuk rapat, mushalla, dan area parkir luas berkapasitas hingga 40 mobil, menjadikan tempat ini cocok untuk nongkrong, bekerja, hingga bersantai bersama keluarga.

Dari Pedagang Kopi Kaki Lima ke Pemilik 7 Cabang
Di tengah suasana sore yang sejuk, pemilik Lampoh Grup, Teungku Ismuhadi (55), menyambut tim media dengan senyum khasnya. Ia tampak memegang bibit pohon saat berfoto di depan bangunan.
“Filosofinya, lampoh itu kebun, dan kebun harus selalu menanam untuk masa depan,” ujarnya, menegaskan makna di balik nama Lampoh yang kini telah menjadi identitas bisnis kuliner Aceh modern.
Warung Lampoh Kupi Kemang menjadi cabang ketujuh Lampoh Grup, setelah sukses membuka Lampoh Coffee di BSD, Bintaro, Pamulang, Jakarta Barat, hingga Cengkareng. Bedanya, kali ini Ismuhadi tidak lagi menggunakan istilah “coffee”, melainkan “warung” atau “keude Aceh”.
“Sekarang orang mencari tempat makan yang murah tapi enak. Jadi konsepnya kami ubah jadi minimalis dan terbuka, lebih akrab. Dengan Rp 20 ribu saja sudah bisa makan atau minum di sini,” jelasnya.

Strategi “Rasa Sama, Harga Bersahabat”
Perbedaan paling mencolok antara Warung Lampoh Kupi Kemang dan Lampoh Coffee lainnya terletak pada strategi harga dan konsep layanan.
Jika di Lampoh Coffee BSD seporsi ayam dibanderol Rp60 ribu, di Kemang harganya hanya Rp40 ribu, dengan porsi lebih kecil namun rasa autentik khas Aceh tetap terjaga.
Ismuhadi mengaku, strategi ini lahir setelah melakukan uji coba di sejumlah festival kuliner di Jakarta, yang mendapat respons positif dari pengunjung. Karena itu, Warung Lampoh Kupi Kemang dirancang buka 24 jam dengan dukungan 50 karyawan terlatih.
Jejak Panjang Warisan Kuliner Aceh
Kisah sukses Teungku Ismuhadi tak lahir begitu saja. Kecintaannya pada kuliner Aceh diwarisi dari sang ibu, Cut Hamidah Hasan, yang sudah lebih dulu merintis usaha makanan khas Aceh di Jakarta sejak 1983.
Sebelum mendirikan Lampoh Grup, Ismuhadi juga pernah berjualan kopi kaki lima di Depok (1991–1993) dan mendirikan Mie Tarik Warisan Aceh. Pengalaman panjang itu, ditambah kiprahnya di JICA (Japan International Cooperation Agency), membentuk karakter tangguh dan visi bisnis jangka panjang.
Tempat Nongkrong Baru Bernuansa Aceh di Tengah Jakarta
Dengan perpaduan antara suasana hijau, cita rasa Aceh yang khas, dan harga yang terjangkau, Warung Lampoh Kupi Kemang diyakini akan menjadi ikon kuliner Aceh di Jakarta Selatan.
Tempat ini bukan sekadar warung, melainkan ruang silaturahmi, tempat bekerja kreatif, sekaligus oase bagi pecinta kopi Aceh sejati.
