BIREUEN — Suasana di SMAN 1 Peudada, Kabupaten Bireuen, mendadak memanas. Ratusan siswa dari kelas X hingga XII menggelar aksi unjuk rasa dan memilih mogok belajar pada Jumat (21/8/2026).
Yang membuat aksi ini menjadi sorotan, para siswa secara terbuka mendesak Kepala SMAN 1 Peudada, Fadli, dicopot dari jabatannya.
Aksi tersebut dilakukan setelah kegiatan doa dan zikir bersama pada Jumat pagi. Usai kegiatan keagamaan itu, para siswa kemudian menyampaikan sejumlah tuntutan dan melakukan aksi di lingkungan sekolah.
Ketua OSIS SMAN 1 Peudada, Fiki Ardiansyah, menyatakan para siswa telah sepakat untuk tidak kembali mengikuti proses belajar mengajar sebelum tuntutan pergantian kepala sekolah ditindaklanjuti.
“Kami semua sudah kompak mogok belajar sampai Kepsek diganti dengan yang baru,” kata Fiki.
Menurut Fiki, keberatan siswa salah satunya berkaitan dengan sikap kepala sekolah yang mereka nilai angkuh, sombong, dan kurang peduli terhadap kegiatan siswa.
Kepala sekolah tersebut diketahui baru beberapa bulan menjabat. Namun, dalam waktu yang relatif singkat itu, ketidakpuasan siswa akhirnya berkembang menjadi aksi terbuka dengan tuntutan pergantian pimpinan sekolah.
Siswa Pulang, Proses Belajar Terhenti
Usai menyampaikan orasi, para siswa tidak melanjutkan kegiatan belajar. Mereka memilih meninggalkan sekolah dan pulang.
Wakil Kepala Sekolah SMAN 1 Peudada, Tarwiyah, S.Pd., M.Pd., Gr., membenarkan terjadinya aksi tersebut.
Ia juga membenarkan bahwa kepala sekolah yang menjadi sasaran tuntutan siswa memang baru beberapa bulan menjabat.
Para siswa kemudian meminta Dinas Pendidikan Provinsi Aceh segera turun tangan menyikapi persoalan tersebut sehingga aktivitas belajar mengajar di SMAN 1 Peudada dapat kembali berjalan normal.
Kepala Sekolah Belum Buka Suara
Hingga berita ini diturunkan, Kepala SMAN 1 Peudada, Fadli, belum memberikan tanggapan terkait tuntutan ratusan siswa tersebut.
Dengan adanya aksi mogok belajar dan tuntutan pergantian kepala sekolah, persoalan di SMAN 1 Peudada kini menjadi perhatian publik. Dinas Pendidikan Aceh diharapkan segera melakukan klarifikasi dan mencari akar persoalan agar konflik antara siswa dan pihak sekolah tidak berlarut-larut.


