Politik

Warung Kopi, Inspirasi Bisnis dan Politik Akar Rumput

121
×

Warung Kopi, Inspirasi Bisnis dan Politik Akar Rumput

Share this article

PIKIRANACEH.COM – Dikisahkan pada 11 Februari 1899, Teuku Umar bersama pasukannya tengah berada di pinggir Kota Meulaboh. 

Kala itu, Teuku Umar tidak mengetahui jika pergerakannya serta pasukannya sudah dibuntuti oleh pasukan VOC. Posisinya terjepit. 

Sebelum melakukan pertempuran penghabisan, Teuku Umar berujar pada pasukannya: 

Baca Juga: Sosok Tgk Bantaqiah Dimata Jenderal Andika Perkasa

Beungoh singoh geutanyoe jep kupi di keude Meulaboh atawa ulon akan syahid” yang dalam Bahasa Indonesia bisa diterjemahkan “Besok pagi kita akan minum kopi di Kota Meulaboh atau (jika tidak) saya akan mati syahid (hari ini)”.

Cuplikan peristiwa dan dialog tokoh pejuang Aceh yang kemudian diangkat menjadi pahlawan nasional Teuku Umar menggambarkan bahwa budaya kopi di Aceh sudah ada sejak zaman sebelum Imperialis Belanda menyerang.

Menurut sebuah hasil penelitian budaya kopi tidak ditemukan di Aceh sampai dengan menjelang akhir Abad ke-19. Sebagaimana dituliskan oleh seorang peneliti Belanda.

Tanaman kopi awalnya dibawa Belanda pada abad XVII melalui Batavia (sekarang Jakarta) untuk ditanam di Aceh tahun 1908. 

Kopi yang pertama sekali diperkenalkan adalah kopi jenis Arabica dibudidayakan di bagian Utara Danau Lut Tawar. 

Hingga saat ini budaya kopi di Aceh terus berlangsung dan mengalami perkembangan yang cukup pesat. Kopi telah menjadi identitas etnik dan tradisi positif yang melambangkan persaudaraan dan keramahtamahan masyarakatnya.

Bagi orang Aceh kopi adalah bagian yang tidak dapat terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari. “Tidak ada kopi tidak ada cerita” begitu teman Gayo berkata. Bahkan Aceh diberi gelar daerah sejuta warung kopi. Sangking begitu banyaknya warung kopi.

Warung kopi merupakan tempat dimana para penikmat kopi menyeruput kopi favoritnya. Disini penjaja kopi menyuguhkan hasil racikannya untuk menciptakan kepuasan pelanggan.

Baca Juga: Pecinta Kopi! Yuk Nikmati Cita Rasa Kopi Aceh Pasti Ketagihan

Jika zaman dulu warung-warung kopi di Aceh masih bergaya tradisional dan sederhana. Namun kini bertranformasi menjadi sebuah tempat minum kopi modern yang terintegrasi dengan teknologi dan gaya hidup maju. Warung kopi di Aceh banyak mengalami perubahan.

Kalau Anda berkunjung di berbagai kota di Aceh, berbagai corak desain warung kopi sangat mudah ditemui. Ada yang mengusung konsep natural, klasik, cafe live music, hingga warung kopi model terbuka. Racikan kopi nya pun sudah banyak jenis turunannya.

Warung kopi di era modern ini tidak saja menjadi tempat favorit untuk bersantai sambil ngopi bersama keluarga dan orang-orang dekat ataupun teman, partner serta rekan kerja, tetapi menjadi inspirasi bisnis pula dikalangan milenial. Tidak sedikit anak-anak muda Aceh yang terjun ke dunia bisnis warung kopi.

Seorang teman saya yang sudah bergelut dengan bisnis warung kopi beberapa tahun lalu di Banda Aceh pernah bercerita jika omset usahanya saat ini mencapai milyaran rupiah setiap tahun (trok zakeut). Jumlah pendapatan yang sangat fantastis.

Anehnya, kendatipun bisnis warung kopi tumbuh bak jamur di musim hujan. Tetapi pengunjung selalu ramai setiap warung kopi dan tetap laris manis. Ya tentu saja harus memperhatikan cita rasa kopi dan tata kelola usaha yang baik pula.

Warung kopi sebagai entitas sosial

Warung kopi bagi warga di Nanggroe Aceh bukan sekedar tempat melepaskan lelah atau menikmati kopi pancung hangat lalu selesai. 

Warung kopi diposisikan sebagai entitas sosial selain entitas bisnis. Di sini berlaku etika khusus warung kopi yang diadopsi dari nilai-nilai baik yang dianut oleh masyarakat Aceh.

Di warung kopi siapa saja boleh datang dan berkumpul, bebas memilih duduk, dan melakukan apa saja. Ibarat fasilitas publik yang boleh digunakan oleh siapa saja asal tidak melanggar aturan atau etika publik.

Dewasa ini pengunjung warung kopi bukan hanya dari kalangan laki-laki saja sebagaimana zaman Teuku Umar. Namun perempuan pun boleh duduk dan menikmati kopi kesukaannya. Bahkan hingga malam hari.

Perubahan budaya mengopi (nongki : nongkrong sambil minum kopi) ini mencerminkan adanya perubahan cara pandang dan pola pikir masyarakat Aceh pula. Warung kopi menjadi tempat yang sangat inklusif.

Wadah diskusi politik ala warung kopi

Daya tarik lainnya yang menyebabkan orang betah dan setia berada warung kopi karena di sini dijamin bebas berpolitik. Warung kopi dalam perspektif politik bisa dikatakan wadah yang menjadi ruang bagi setiap orang untuk bebas mengeluarkan pendapat dan pilihan politiknya tanpa intimidasi atau kriminalisasi.

Kalau kita lihat secara empiris, banyak sekali pakta-pakta politik yang berhasil dirumuskan dari sebuah warung kopi. Makanya tak heran bila warung kopi kerap dijadikan sebagai basis membangun dukungan politik oleh para politisi lokal bahkan nasional.

Bagi masyarakat bawah, di warung kopi menjadi tempat mereka meng-update informasi-informasi. Saluran informasi apapun akan mudah didapatkan ketika mereka saling bertemu dan bertukar info. Kadang-kadang kecepatan informasi di warung kopi lebih cepat dari media mainstream.

Kualitas informasi yang beredar di warung kopi pun sangat beragam. Ada level gosip, asumsi, persepsi, dan kualitas teruji (valid). Artinya kaya akan data dan hipotesa. Tinggal Anda sendiri memilih dan memilah sesuai keperluan.

Biasanya masyarakat grass root mendiskusikan isu-isu politik daerah seperti tentang sepak terjang pemimpin daerah, ya sesuai cara pandang mereka tentunya. Masyarakat awam tidak pandai mengucapkan istilah-istilah ilmiah dalam percakapan mereka. Akan tetapi bahasa digunakan cukup sederhana namun mengenai persoalan yang dibahas. Itulah kelebihan politisi warung kopi.

Simpulan

Nanggroe Aceh adalah warung kopi terbesar di dunia. Luasnya seluas Aceh. Begitulah bisa dikatakan. 

Dengan karakteristik masyarakatnya yang peduli pada persoalan-persoalan politik, suka berdagang (bisnis), dan senang bergaul atau membina hubungan sosial antar sesama, menjadikan warung kopi sebagai variabel penting dalam budaya dan gaya hidup warga Aceh hingga sekarang ini.

Ada kopi ada cerita. ***