Politik

4 Penyebab Hancurnya Agama dan Negara

133
×

4 Penyebab Hancurnya Agama dan Negara

Share this article

PIKIRANACEH.COM – Kemajuan negara dan Islam di dunia sangat dipengaruhi oleh kapasitas dan kualitas pemimpin baik lahir maupun batin yang menjalankan kekuasaan. 

Pemimpin di sini bisa informal, terlebih pemimpin formal yang dipercayakan sebuah kekuasaan.

Sebuah Negara bisa menjadi sebuah negara yang berdaulat atau bahkan menjadi kacung penjilat para penjajah apabila pemimpinnya tidak mampu menjalankan amanah kekuasaan dengan baik.

Baca Juga: Konflik Palestina Bukan Hanya Masalah Perebutan Teritorial, Tetapi…

Pun umat Islam akan mengalami kemunduran dan kehancuran jika pemimpin nya bersikap bejat, berkhianat, dan menuhankan kekuasaan yang mementingkan kemewahan dunia belaka.

Dengan izin Allah SWT, agama Islam tidak akan menjadi buruk atau musnah di muka bumi, meskipun umatnya mengalami kehancuran sebab Islam merupakan agama yang diturunkan oleh Allah SWT untuk membawa manusia kepada jalan yang lurus. 

Justru pengikutnya lah yang akan ditinggalkan oleh Islam jika ajaran-ajaran nya tidak diamalkan dalam kehidupan sehari-hari atau malah dilecehkan.

Celakanya, pelecehan terhadap Islam oleh orang-orang fasik dan munafik semakin parah saja. Perbuatan mereka bahkan disokong oleh pemimpin dzalim yang memiliki kekuasaan dan kekuatan. Sungguh sangat menyedihkan!

Namun hal ini telah digambarkan dalam Al-Quran. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan pemimpinmu orang-orang yang membuat agamamu jadi bahan ejekan dan permainan,”…(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 57)

Oleh karena itu sangat penting bagi kita mempertimbangkan secara matang dalam menjatuhkan pilihan untuk memilih pemimpin. Benar kata Jokowi jangan sampai salah pilih pemimpin. Berikut kriteria pemimpin yang tidak boleh dipilih dan penyebab hancurnya agama dan negara.

Pemimpin yang tidak adil

Menjadi sorang pemimpin tentu bukanlah hal yang mudah, banyak sekali tanggung jawab yang harus diemban. Seorang pemimpin dituntut harus menegakkan keadilan meskipun orang-orang di sekitarnya tidak mendukung, atau bahkan mendapatkan ancaman.

Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam dalam sabdanya mengatakan bahwa apabila seseorang diberikan amanah menjadi pemimpin tetapi ia tidak melaksanakan tugas dan kewajibannya secara baik, maka ia tidak akan mencium bau surga.

“Tidaklah seorang hamba yang Allah beri amanat kepemimpinan, namun dia tidak menindaklanjutinya dengan baik, selain tak bakalan mendapat bau surga.” (HR Bukhari).

Sungguh berat beban seorang pemimpin. Sebab, pertanggungjawabannya tidak hanya di dunia yang fana ini, melainkan juga akhirat yang kekal abadi kelak.

Rasulullah SAW juga pernah mendoakan kesusahan bagi para penguasa yang menindas umat beliau. Artinya tidak menjalankan amanahnya dengan baik.

“Ya Allah, siapa yang mengemban tugas mengurusi umatku kemudian dia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia. Siapa yang mengemban tugas mengurusi umatku dan memudahkan mereka, maka mudahkanlah dia.” (HR Muslim).

Ulama yang diam

Ulama merupakan pewaris para nabi. Melalui ulama maka ilmu agama akan sampai kepada umat. Ulama juga memiliki peran dalam menegakkan yang hak dan memerangi kebatilan.

Dengan menyebarkan ilmu agama kepada umat, maka agama akan hidup dan akhirnya akan mendatangkan keberkahan dari langit.

Sebab itu ulama dituntut untuk membimbing manusia kepada jalan yang benar. Memberikan fatwa-fatwa yang melindungi umat dari kerusakan dan kehancuran moral.

Ulama tidak boleh berdiam diri apabila melihat kemungkaran terjadi. Tetapi wajib bersuara dan bergerak bersama umat untuk mencegah kemungkaran tersebut.

“Mereka tidak saling mencegah perbuatan mungkar yang selalu mereka perbuat. Sungguh, sangat buruk apa yang mereka perbuat.” (QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 79)

Orang kaya yang kikir

Pada hakikatnya kekayaan yang diperoleh merupakan anugerah atau nikmat Allah SWT. Harta yang banyak, dan rezeki yang melimpah adalah titipan Allah tidak hanya untuk dirinya saja namun untuk orang lain yang didalamnya termasuk fakir miskin, anak yatim-piatu, dan kaum dhuafa.

Lewat kekayaan yang diberikan itu, seseorang wajib mengeluarkan zakat, infak, dan sedekah untuk membantu orang lain.

Baca Juga: Hakim Ingatkan Zulfadli soal Makna yang Terkandung Dalam Sumpah Usai Dilantik Jadi Ketua DPR Aceh

Islam sangat menyukai orang-orang kaya yang dermawan. Sebaliknya sangat membenci orang-orang kaya yang kikir dan suka menumpuk-numpuk harta untuk dipamer-pamerkan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

“Ketika Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka menjadi kikir dan berpaling, dan selalu menentang (kebenaran).” (QS. At-Taubah 9: Ayat 76)

Zaman sekarang sudah banyak orang-orang kaya yang memiliki sifat kikir. Tak jarang mereka enggan untuk mengeluarkan hak orang lain atas harta mereka. Akibatnya terjadi ketimpangan ekonomi diantara umat Islam dan akhirnya menimbulkan persoalan sosial.

Doa orang miskin

Orang-orang miskin adalah mereka yang dijamin oleh Rasulullah Saw untuk masuk surga pertama kali. Sangking begitu istimewa nya orang miskin dalam pandangan Islam. 

Karena itu pula doa orang miskin yang sabar dalam kemiskinannya, dan beriman dengan teguh langsung diterima oleh Allah SWT. Doa mereka tanpa hijab.

“Orang-orang miskin itu masuk ke dalam surga 40 tahun sebelum orang-orang kaya. Wahai ‘Aisyah, janganlah engkau menolak orang miskin walau dengan sebelah kurma. Wahai ‘Aisyah, cintailah orang miskin dan dekatlah dengan mereka karena Allah akan dekat denganmu pada hari kiamat”, jawab Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam (HR. Tirmidzi)

Sayangnya, tidak sedikit orang miskin di zaman sekarang yang suka menjadi pengemis, malas beribadah, dan tidak mau berdoa kepada Allah SWT. Padahal doa-doa orang miskin mengandung keberkahan yang luar biasa.

Kalau orang-orang miskin sudah meninggalkan doa-doa mereka, maka tidak ada lagi pintu-pintu keberkahan langit yang terbuka dimana keberkahan itu diturunkan ke bumi.***