Politik

Persaudaraan Islam Semakin Kuat di Palestina Karena Badai Al Aqsa

97
×

Persaudaraan Islam Semakin Kuat di Palestina Karena Badai Al Aqsa

Share this article

PIKIRANACEH.COM – Dalam kesakitan yang amat sangat. Rakyat Palestina masih mampu lirih memanggil saudara Islam nya untuk datang memberi pertolongan.

Ribuan anak-anak Palestina yang syahid bergumam lembut “help me” bersamaan dengan lantunan nama Allah saat-saat sakaratul maut menjemput mereka.

Baca Juga: Akhirnya Israel Akui Kehebatan Hamas, Gagal Masuk Kota Gaza: Banyak Ladang Ranjau dan Jebakan

Di dalam benak rakyat Palestina masih terngiang pesan Rasulullah Saw kepada seluruh umat nya : “Seorang muslim itu adalah saudara muslim yang lain. Oleh sebab itu, jangan menzalimi dan meremehkannya dan jangan pula menyakitinya.” (HR. Ahmad, Bukhori dan Muslim).

Perkataan Rasulullah Saw pastilah benar, karena ia tidak memiliki sifat dusta. Ajaran Rasulullah juga benar, karena datangnya dari Maha Benar Pemilik Alam Semesta, Allahu Rabbul Jalil.

Panggilan itu kemudian langsung diijabah oleh Allah SWT. Melalui lisan Sekjen Hizbullah dan bersama pejuang seantero negara teluk langsung menyambar Tel Aviv dengan hujan roket dan rudal balistik dari Yaman.

Bukan hanya mereka, solidaritas masyarakat dunia hari ini sangat tinggi untuk kemerdekaan Palestina dan mengutuk Israel yang membunuh ribuan anak-anak Gaza. Komunitas internasional menempatkan Israel sebagai sumbu kejahatan dunia

Gambaran ini sangat positif bagi kehidupan baru di bumi tanpa Israel bahkan tanpa Amerika sekalipun. Karena tanpa mereka bumi akan damai dan harmoni.

Meskipun begitu, “Badai Al Aqsa” juga membawa kita pada sebuah kenyataan yang berbeza. Persaudaraan Islam yang sudah ribuan tahun dibangun oleh Rasulullah Saw telah terjungkal di tanah Palestina, runtuh dan tertanam bersama puing-puing rumah penduduk Gaza yang dibombardir. 

Baca Juga: Pidato Sekjen Hizbullah Sayyid Hasan Nasrallah Kepada Israel: Hentikan Agresi Terhadap Warga Palestina!

Sebagian orang Islam di belahan dunia memotong tali persaudaraan itu dengan sebuah pengkhianatan. Sebagian lainnya melucuti simpul persaudaraan itu dengan drama kepalsuan, meneriakkan rasa peduli padahal ia sedang mencari panggung di atas penderitaan rakyat Gaza.

Hembusan Badai Al Aqsa memang sangat dahsyat. Topan mematikan yang ditiup dari terowongan-terowongan gelap pejuang Palestina, mampu menyingkap tabir kepalsuan dan menampakkan secara kasat siapa musuh utama sebenarnya.

Memang Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, Qatar, Yordania, dan Mesir adalah negara-negara yang terdampak secara langsung oleh Badai Al Aqsa. Hingga ke seluruh penjuru dunia meneriakkan kata-kata surga.

Penguasa tanah Arab pun ramai-ramai mengutuk mereka yang menciptakan “neraka” bagi Palestina, tentu ditujukan kepada Israel. Kutukan yang diikuti pula dengan sejumlah permintaan menghentikan aksi Genosida.

Namun ultimatum basa-basi negara arab itu dianggap angin lalu oleh Netanyahu. Malah aksi bombardir secara brutal terus menerus justru dilancarkan tanpa jeda, yang mengakibatkan jatuhnya korban warga sipil dalam jumlah tak terhingga.

Ini artinya kutukan-kutukan itu tidak membawa akibat apa-apa untuk menghentikan kekejaman serdadu Yahudi gila. Sebab itu diperlukan langkah nyata yang lebih keras dan tegas lagi agar Netanyahu secara terpaksa berhenti membunuh rakyat yang tak berdosa. 

Apakah langkah itu? Ya embargo minyak dan gas untuk Israel. Karena tanpa minyak pesawat tempur tak akan dapat digerakkan. Seperti halnya Rusia yang menyetop suplai minyak dan gas ke Eropa ketika melawan embargo Amerika pada Perang Ukraina.

Baca Juga: Eks Panglima GAM Mualem Jadi Ketua Tim Pemenangan Prabowo-Gibran: Dapat Apresiasi Khusus

Sebenarnya langkah seperti itu lah yang diperlukan untuk menyelamatkan rakyat Palestina (Gaza). Tapi rasanya mustahil dapat terjadi, mengingat rezim yang menguasai dunia tidak berpihak kepada Palestina, atau dukungan hanya sekedar basa-basi.

Sedih, perih, menyesali memang. Sebab perasaan kemanusiaan dan persaudaraan kerap bergolak di dalam jiwa. Tetapi sekali lagi, dunia kini cenderung dipimpin oleh iblis dan manusia berhati durjana. Inilah akibat yang dirasakan oleh penduduk bumi Palestina saat ini, boleh jadi pada gilirannya akan terjadi di tempat lain.

Jika kengerian yang tidak lagi mengindahkan rasa kemanusiaan di pertontonkan dengan membabi buta, maka dimanakah letak kedamaian itu? Tidak ada lagi. Karena yang ada hanya budaya bar-bar seperti saling membunuh satu sama lainnya.

Beruntung! Badai Al Aqsa telah menunjukkan kepada kita yang mana saudara dan siapa sesungguhnya mereka!***