PIKIRANACEH.COM – Negara adi daya dengan kekuatan militer besar di dunia belakangan ini tak lebih dianggap sebagai monster kelas wahid pembunuh umat manusia. Adalah United State of America (USA) yang kehilangan pamor dan wibawa untuk memimpin dunia. Karena mereka tidak layak lagi disebut Polisi Dunia.
Amerika memiliki kedigdayaan secara militer untuk menguatkan posisi nya dalam percaturan politik dunia. Bahkan dengan kekuatan besar yang ada ditangannya membuat negara-negara lain takut melawan AS (Amerika Serikat).
Tetapi pada ujung abad ini, posisi Amerika semakin melemah dan kehilangan power untuk memimpin dunia. Negara besar ini seakan tidak lagi memiliki wibawa di mata masyarakat internasional.
Konon lagi kerap melakukan pelanggaran dan kejahatan yang merugikan bangsa lain atau negara lain.
Amerika dengan gaya imperialisme nya sering menjadi masalah dan gangguan keamanan satu kawasan. Klaim ini tidak berlebihan, kita bisa lihat bagaimana AS memerangi setiap negara yang tidak sejalan dengan kemauannya. Kemudian memunculkan ketegangan dan ketidakstabilan kawasan.
Bagaimana Amerika menghancurkan negara-negara di kawasan teluk, timur tengah, Afrika, dan hingga ke ujung Asia adalah sedikit bukti yang masih segar dalam catatan sejarah dunia.
Kuku imperialisme Amerika mencakar dan mencabik-cabik negara-negara itu hingga luluh lantak bahkan membunuh pemimpin mereka secara sadis dengan beragam alasan yang dicari-cari. Pembunuhan Presiden Irak Saddam Hussein misalnya.
Masih segar pula dalam ingatan kita bagaimana Amerika bersama sekutunya menghancurkan Afganistan, Irak, Suriah, dan teranyar adalah Palestina. Celakanya sasaran utama mereka adalah negara-negara yang dipimpin oleh Islam dan penduduknya mayoritas Islam.
Apakah hanya itu saja? Tentu tidak, masih ada tindakan kotor lainnya yang dimainkan oleh Amerika untuk menghabisi perlawanan-perlawanan yang muncul merespon imperialisme yang mereka ciptakan.
Dengan memberikan stempel teroris kepada kelompok perlawanan, maka seakan Amerika sudah memiliki hak untuk memerangi mereka. Padahal kelompok-kelompok pejuang itu merupakan gerakan perlawanan atas penjajahan yang tidak bisa mereka terima.
Amerika memang simbol imperialisme barat. Sehingga siapapun pemimpin negara ini, tangan mereka tidak ada yang bersih dari lumuran darah. Menciptakan permusuhan antar negara sebagai konflik kepentingan dengan cara yang licik dan kotor adalah strategi utama Amerika.
Dalam konteks Palestina, hari ini Amerika bersama mitra dekatnya Israel secara terang-terangan mengakui ingin membumihanguskan Gaza dan mendukung penuh pembantaian melalui mesin-mesin tempur Israel.
Korban di Gaza hingga hari ini tidak tanggung-tanggung mendekati angka 10.000 orang yang syahid dan setengah dari itu adalah anak-anak, kemudian wanita, dan orang lanjut usia. Ditambah lagi korban yang luka-luka mencapai 32.000 lebih. Amerika memang tidak beradab dan bodoh, sama halnya dengan Isreal yang brutal dan tidak mengenal rasa kemanusiaan.
Maka itu, secara moralitas Amerika dengan sendirinya tidak lagi memiliki legitimasi mengakui dirinya sebagai polisi dunia. Bahkan Amerika harus dihukum sebagai penjahat perang dan penjahat kemanusiaan bersama Israel.
Dalam voting Resolusi Gencatan Senjata di PBB, negeri Paman Sam adalah salah satu dari 14 negara yang menolak. Artinya Amerika mengizinkan Israel melakukan Genosida yang lebih masif di Gaza dan Palestina. Lantas dimanakah human right yang selama ini digembar-gemborkan?
Tuduhan teroris kepada pihak yang tidak disukai Amerika, sebenarnya hanya topeng untuk menutupi yang sesungguhnya negara Amerika lah gembong teroris dunia yang asli. Adapun negara teroris Israel merupakan anak kesayangan mereka yang selalu disusui dan didukung sepenuhnya.
Namun kali ini takdir berbicara lain. Ditangan pejuang Palestina, negara teroris Israel telah terjungkal ke dalam lubang kehancuran paling dalam.
Pejuang Brigade Al Qassam (sayap militer Hamas) sukses menghembuskan Badai Al Aqsa pada 7 Oktober 2023 dan ini merupakan pintu awal menyeret Israel bersama Amerika ke lubang neraka yang dahsyat jika mereka tidak mau bertobat.
Baca Juga: Abu Ubaida, Juru Bicara Militer Terkenal Brigade Al-Qassam yang Dicintai Rakyat Palestina
Secara psikologis, politik, dan moral Amerika sudah tidak berdaya dan mengalami tekanan yang amat berat. Masyarakat internasional hari ini tidak bisa lagi dibohongi dengan rekayasa dan permainan media.
Bahkan kebohongan yang selama ini dibangun dengan susah payah terbongkar dengan sendirinya. Sehingga bobrok Amerika dan kebejatan moral Pemimpin nya terlihat jelas di mata rakyatnya sendiri.
Joe Biden Anda presiden macam apa? Begitu sindiran tajam dari seorang dokter kesehatan Dr Mars Gilbert berkewarganegaraan Norwegia yang bekerja di rumah sakit Asyifa di Gaza yang menyaksikan bagaimana teroris Israel didukung Amerika melancarkan genosida.
Sindiran tersebut merupakan penghinaan kecil yang ditujukan kepada dedengkot teroris Joe Biden yang melegalkan Israel menyerang rumah sakit, kamp pengungsi sipil, sekolah, rumah ibadah, dan tenaga medis di Gaza.
Masih ada penghinaan besar yakni Amerika dan Israel harus angkat kaki dari bumi Palestina, dan menyerah tanpa syarat.
Maka masuk akal jika dunia meminta Amerika untuk berhenti melabeli dari sebagai polisi dunia. Tanggalkan hak veto yang salah gunakan.
Sudah waktunya Anda istirahat, tentunya sambil menunggu hukuman yang akan kalian terima secara tunai atas kejahatan yang pernah Anda lakukan untuk dunia.***












