PIKIRANACEH.COM – Bicara politik sebenarnya adalah bicara tentang ideologi. Tidak ada politik tanpa ideologi. Lalu apa sebenarnya ideologi politik partai Aceh? Atau jangan-jangan tidak memiliki ideologi?
—
Satu-satunya partai politik lokal yang memiliki banyak kader dan menguasai sebanyak 22 persen atau 18 kursi dari 81 anggota parlemen (DPR Aceh) adalah Partai Aceh (PA).
Munculnya parlok di Aceh seiiring dengan terjadinya transisi dari situasi konflik (peperangan) ke situasi damai (perdamaian). Transisi dan transformasi ini secara fisik memang nyata, yakni adanya perubahan. Misalnya pelucutan senjata dan atribut militer GAM, dan lainnya sebagainya.
Tetapi dalam banyak sejarah di belahan dunia tentang perjuangan sebuah ideologi, meskipun secara fisik berubah (terjadi transformasi), tetapi ideologi akan tetap hidup. Dan Aceh di masa kerajaan telah membuktikan itu. Aceh tidak pernah menyerah kepada Belanda.
Baca Juga: Ini Kebijakan Achmad Marzuki Hingga Disebut Tukang Bikin Gaduh di Aceh
Sikap keras kepala bangsa Aceh pada zaman itu disebabkan karena keteguhan memperjuangkan ideologi nya untuk melawan kafir dan menegakkan agama Allah SWT di bumi tanah rencong.
Hasil dari perjuangan ideologi atau buah dari perjuangan ideologi endatu kita tersebut adalah hingga saat ini insya Allah Aceh masih dalam Islam dengan nama besar yang disegani oleh dunia.
Bukankah GAM juga memperjuangkan hal yang sama? Lantas mengapa ideologi GAM tidak mampu dimasukkan dalam ruh Partai Aceh?
Secara historis Partai Aceh lahir karena adanya Memorandum of Understanding (MoU) perdamaian antara pihak GAM dan RI di Helsinki, Finlandia dengan semangat menyelesaikan konflik.
Sedangkan secara ideologis, Partai Aceh seyogyanya adalah partai yang dihadirkan untuk memperjuangkan kemerdekaan bagi bangsa Aceh sebagaimana dicita-citakan oleh pendiri Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Dr. Tgk Hasan di Tiro.
Baca Juga: Sejarah Aceh Hari Ini, 13 Tahun Pemimpin Gam Hasan Tiro Mangkat Diusia 84 Tahun
Meskipun kenyataan kini GAM telah gagal mencapai tujuan utamanya yaitu melepaskan diri dari NKRI, namun ideologi yang sudah terpatri itu tidak boleh pudar, tetap harus diperjuangkan secara dejure. Dan beberapa poin (pokok pikiran perjuangan) sudah tercantum di dalam MOU Helsinki.
Ideologi kemerdekaan yang diperjuangkan dapat saja bermakna majasi dan dalam wujud yang tidak seperti saya sebutkan di atas. Setidaknya bangsa Aceh memiliki harga tawar yang semestinya dari Jakarta.
Kehadiran Partai Aceh pada awalnya disambut euforia oleh rakyat Aceh. Mereka seperti memiliki harapan baru untuk perjuangan Aceh yang lebih baik dan lebih sejahtera. Partai Aceh dielu-elukan sebagai representasi masyarakat dan menjadi saluran aspirasi di parlemen nantinya.
Namun hingga usia PA beranjak genap 16 tahun, rasanya masyarakat Aceh banyak menelan kekecewaan dan putus asa. Mengharapkan PA sebagai ujung tombak perjuangan nyatanya bergeming.
Baca Juga: GAM termasuk Dalam Delapan Besar Pemberontakan di Indonesia, Ini Tujuh Lainnya
Barangkali partai besutan Muzakir Manaf (mualem) dan partai lokal pelopor di Aceh perlu belajar ke PDIP dalam hal pembinaan ideologi partai, seni berpolitik, dan militansi para kader.
PDIP sebagai partai marhaenisme yang memperjuangkan ideologi Soekarno, sejak partai itu dibentuk bahkan hingga saat ini konsisten dengan ideologi mereka tanpa ragu. Bahkan PDIP ingin negara ini mengakui 1 Juni 1945 sebagai Hari Lahir Pancasila, sesuatu yang bertolak belakang dengan kesepakatan para pendiri negara.
Berkaca dari partai pimpinan Megawati Soekarnoputri itu, rasanya Partai Aceh perlu melakukan evaluasi untuk melihat kembali latar belakang lahirnya, dan memperkuat ideologi partai agar sejalan dengan cita-cita GAM. Dengan demikian eksistensi partai ini ditengah masyarakat dapat terjaga.
Jujur saja saya melihat partai lokal kebanggaan rakyat itu saat ini tidak lebih hanya sebuah partai biasa tanpa memiliki nilai-nilai yang diperjuangkan. Partai-partai politik yang pada umumnya hanya mencari kursi di parlemen atau jabatan Gubernur/Bupati/Wali Kota, dan itu hanya kerja 5 tahun sekali.
Padahal ekspektasi masyarakat terhadap perjuangan PA lebih dari sekedar hanya meraih kekuasaan dan jabatan sekelas pimpinan daerah tok.
Masyarakat Aceh justru sangat menunggu-nunggu para politisi Partai Aceh mampu memainkan pengaruhnya melalui kelihaian diplomasi baik dipentas nasional maupun internasional untuk perjuangan Aceh.
Aceh hari ini banyak menyisakan masalah. Mulai dari perihal identitas Aceh yang mulai samar, sosial, ekonomi, budaya, pendidikan, hingga ihwal lingkungan hidup yang sudah rusak. Kalau pelbagai persoalan ini tidak mampu diselesaikan, maka Aceh akan selalu hidup terpuruk dan mengalami stagnasi.
Kemudian pertanyaannya adalah dimanakah Partai Aceh?












