Politik

Hari Meugang Tradisi Unik Ureung Aceh

56
×

Hari Meugang Tradisi Unik Ureung Aceh

Share this article

PIKIRANACEH.COM – Menyambut hari raya idul Adha 1444 H umat muslim Aceh setiap tahun nya makan daging meugang. Meugang merupakan tradisi masyarakat Aceh yang memiliki nilai-nilai yang ditanamkan oleh indatu.

Tradisi meugang telah dilakukan sejak zaman dulu, sudah turun temurun. Tidak diketahui persis kapan.

Baca Juga: Presiden Janji Selesaikan Pelanggaran HAM Berat Konflik Aceh, Bisa Dipegang Nggak Tuh?

Meugang dalam bahasa Aceh. Meugang yaitu tradisi memasak daging dan menikmatinya bersama keluarga, kerabat dan yatim piatu oleh masyarakat Aceh, Indonesia. 

Meugang atau Makmeugang adalah tradisi menyembelih kurban berupa kambing atau sapi dan dilaksanakan setahun tiga kali, yakni menyambut Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha.

Pada hari itu masyarakat peternak sapi atau kerbau menyembelih ternak mereka lalu menjualnya di pasar. Sebagian peternak ada juga yang tidak memotongnya dan memasarkan daging hewan mereka sendiri. Tapi dijual kepada orang lain. 

Pemotongan hewan pada hari meugang tersebut bisa berjumlah ribuan ekor sapi dan kerbau. Harga rata-rata daging dijual berkisar 160-180 ribu rupiah per kilogram bahkan di beberapa daerah ada yang sampai 200 ribu per kilogram. Setiap rumah tangga biasanya membeli 2-3 kilogram daging untuk disantap bersama keluarga. 

Pasar daging sapi khusus tersebut dapat dimasuki oleh siapa saja. Yang terpenting mereka punya modal untuk membeli hewan lalu memotong dan menjual dagingnya kepada masyarakat secara wajar dan lazim. 

Hewan yang dipotong pada hari meugang haruslah hewan atau ternak yang sehat. Dinas Peternakan Aceh atau kabupaten/kota melakukan pemeriksaan atau pengecekan kesehatan sapi atau kerbau sebelum mengeluarkan rekomendasi layak dipotong. 

Hal ini untuk mencegah daging hewan yang dikonsumsi oleh masyarakat mengandung penyakit menular yang berbahaya bagi kesehatan. 

Sekaligus ini sebagai tanggung jawab pemerintah untuk menyediakan bahan pangan yang sehat dan terbebas dari penyakit. 

Apalagi Aceh pernah mewabah penyakit PMK akut.

Kemeriahan masyarakat Aceh menyambut tradisi meugang selalu menarik perhatian. Walaupun meugang selalu ada setiap tahunnnya atau sudah rutin. Namun begitu, tetap saja selalu meriah dan menarik. 

Pada hari meugang biasanya masyarakat Aceh yang diperantauan pun pulang kampung untuk merayakannya bersama keluarga mereka. Saat hari meugang itulah anak-anak muda yang pulang dari merantau bertemu dan saling silaturrahmi di kampung.

Suasana keakraban dan saling melepaskan rindu sesama teman dan keluarga yang lama tidak bertemu karena di tempat rantau masing-masing tumpah di hari meugang. Mereka berjumpa dan saling mengisahkan pengalaman di tempat kerja atau usaha (bisnis) yang mereka jalani selama di rantau orang.

Makna Meugang Bagi Orang Aceh

Tradisi Meugang telah menjadi sebuah tradisi unik bagi etnik Aceh. Saya rasa tidak ada di daerah lain di Indonesia yang melakukan pemotongan hewan secara massal dan harga dagingnya tinggi seperti halnya di Nanggroe Aceh. 

Meugang bagi orang Aceh bukan sekedar tradisi belaka, namun dibalik itu memiliki makna yang sarat dengan pesan moral dan ajaran agama.

Meugang memang bukanlah perintah wajib dalam ajaran Islam. Artinya tidak dilakukan juga tidak masalah. Namun jangan dikatakan pula bahwa ini perbuatan bid’ah karena hal ini tidak dilakukan oleh Nabi. 

Sebab selama ini ada sebagaian kelompok masyarakat yang menuding bahwa meugang merupakan perbuatan atau tradisi yang tidak perlu diteruskan karena tergolong pada perbuatan bid’ah. 

Baca Juga: KKP Keluarkan Juknis Baru untuk Menunjang Akses KUR Sektor Kelautan dan Perikanan

Menurut kelompok ini memandang hari meugang justru mendatangkan mudharat bagi masyarakat terutama masyarakat golongan fakir miskin dan anak yatim yang ekonomi mereka sangat lemah. 

Alasan mereka menyandarkan pada harga daging yang dijual pada pasar hari meugang terlampau tinggi sehingga membuat masyarakat ekonomi lemah tidak memiliki kemampuan atau daya beli. 

Sehingga membuat mereka merasa sedih dan kecewa karena tidak dapat menikmati daging sebagaimana keluarga lain tetangga mereka. Nah ini tergolong mendatangkan mudharat karena membawa kesedihan bagi saudara-saudara kita yang lain.

Namun benarkah demikian? Justru sebaliknya, hari meugang adalah hari berbagi antar sesama terutama dengan fakir miskin, anak yatim, dan kaum dhuafa. 

Makna meugang berarti orang yang mampu secara ekonomi menjadikan hari tersebut sebagai ajang untuk berbuat baik kepada tetangganya dan orang-orang yang membutuhkan. 

Sekurang-kurangnya mengundang mereka untuk menyantap kenduri makan siang di rumah. 

Jadi meugang membawa pesan bahwa setiap orang yang mampu untuk memiliki kepedulian sosial, peka terhadap sekeliling mereka dan menolong kaum dhuafa untuk dapat menikmati meugang bersama. 

Begitu pula seorang anak yang masih memiliki orang tua, meugang membawa pesan agar mereka tidak pernah lupa kepada kedua ibu bapaknya. Kirimkan belanja jika kita tidak bisa pulang karena sibuk dengan kewajiban yang tidak bisa ditinggalkan.

Itulah makna meugang sebagai sebuah ajaran. Bahwa apa yang telah dilakukan oleh para orang tua kita terdahulu pasti memiliki suatu kebaikan dan filosofi tradisi yang tidak bertentangan dengan Islam.***