PIKIRANACEH.COM – Tidak ada amalan yang paling dicintai oleh Allah SWT pada hari ini, yakni pada hari raya idul adha, melainkan mengalirkan darah hewan kurban. Demikian dikatakan Tgk Muhammad Syukran dalam khutbahnya di Masjid Babul Maghfirah, Kecamatan Darussalam, Kabupaten Aceh Besar, Kamis, (29/06/2023).
Allah SWT dan rasul Nya, sambung Muhammad Syukran, memerintahkan setiap orang yang beriman untuk melaksanakan shalat dan berkurban pada hari ini. Sesuai dengan Firman Nya:
“Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).” (QS. Al-Kausar 108: Ayat 2)
Para mufassir menterjemahkan “lirabbi” pada ayat tersebut sebagai perintah untuk melaksanakan shalat dan kurban benar-benar karena dan hanya untuk Allah SWT, bukan untuk selain Allah.
“Maka kalau shalat dan kurban dilakukan karena alasan tidak enak dilihat orang sebab status kita orang terpandang mungkin. Sehingga kurban dilakukan bukan semata-mata karena ikhlas kepada Allah SWT tetapi untuk pencitraan,” ujar Muhamad Syukran.
Melaksanakan kurban tapi dengan niat agar mendapatkan pujian dari manusia, maka itu tergolong perbuatan riya’. Riya dalam beribadah sebab itu tidak mendapatkan pahala apapun di sisi Allah SWT.
Baca Juga: Sikap Rela Berkorban Mulai Langka
Namun, menurut Tgk Muhammad Syukran, lebih baik berkurban meski masih belum mampu untuk tidak riya’ daripada golongan orang yang kaya tetapi tidak mau berkurban sama sekali karena kikir. Bahkan sengaja beralasan tidak melakukan ibadah karena takut riya’.
“Tidak berkurban karena takut riya’, itu juga tergolong riya’. Setan menjadikan riya’sebagai tameng untuk menghalangi berbuat amal ibadah,” tegasnya.
Orang yang riya’ barangkali tidak berbuah pahala dari hewan kurbannya, tetapi ia masih mungkin memperoleh dua pahala pada sisi amalan yang lain yaitu, pertama; ia telah menyenangkan hati kami kaum muslimin karena hewan kurban yang ia serahkan, dan kedua; daging kurban yang didistribusikan kepada fakir miskin, dan karena itu mereka mendoakan si pemilik hewan kurban yang ia makan dagingnya tersebut.
“Kendati demikian, kita harus berusaha semampu kita untuk menekan sifat riya’ yang mungkin masih ada dalam dada kita. Kita harus berperang melawan hawa nafsu, melawan keinginan untuk dipuji dan disanjung oleh orang lain, melawan diri sendiri supaya ibadah menjadi ikhlas,” tambahnya.
Selanjutnya, Muhammad Syukran juga menjelaskan, kurban itu ada dua, ada kurban khusus yaitu yang dilakukan hari ini atau setahun sekali, baik menyembelih sapi atau kambing, namun ada juga kurban umum, dimana setiap saat kita harus selalu ikhlas mengorbankan apa yang paling kita cintai untuk beribadah kepada Allah SWT.
Ketika perintah kurban turun kepada Nabi Ibrahim as, putra semata wayangnya Ismail merupakan seorang putera yang paling disayangi dan dicintai oleh Ibrahim. Namun karena itu perintah Allah, maka Ibrahim rela mengorbankan dengan menyembelih Ismail.
“Nah, setiap kita pun hari ini memiliki “ismail” masing-masing. Ismail kita adalah jabatan, pekerjaan, harta, istri dan anak-anak/keluarga. Kita harus berkurban dari apa yang dimiliki dan cintai untuk ber’ubudiyah kepada Allah SWT, itulah makna kurban secara umum,” ungkapnya lagi.
Oleh karena itu mari kita berkorban dengan ikhlas, tidak riya’ tetapi semata-mata untuk Allah SWT. Jangan berkurban hanya untuk disebut-sebut oleh manusia apalagi hanya untuk pencitraan, seolah-olah kita paling saleh dalam beramal.***
