PIKIRANACEH.COM – Dari banyak kabar yang beredar diberbagai lini media massa, tingkat keparahan aksi begal di Kota Medan Sumatera Utara sudah mencapai titik darurat kriminal. Hampir setiap menit korban aksi kejahatan pembegal berjatuhan. Sangking parahnya, sampai-sampai Wali Kota Bobby Nasution meminta kepolisian menembak mati di tempat para pembegal tersebut.
Meski ditentang oleh sejumlah pihak seperti LSM Kontras yang tidak setuju dengan usulan Bobby karena alasan melanggar HAM namun langkah hukum tembak mati ditempat terhadap begal patut dipertimbangkan oleh aparat kepolisian Sumatera Utara, tentunya sesuai proses dan prosedur.
Konon dari pemberitaan, aksi begal sudah berani dilakukan secara terang-terangan. Para penjahat itu tidak lagi memiliki rasa takut terhadap aparat penegak hukum yang ada di sana. Bahkan mereka mencuri dan merampas harta orang lain seperti mengambil barang milik sendiri saja. Begitu nyata dan tidak ada yang berani melarang.
Aksi koboi penjahat di provinsi yang bertetangga dengan Nanggroe Aceh itu seakan ada pembiaran oleh kepolisian daerah Sumatera Utara. Tidak sedikit pula yang mensinyalir jika oknum-oknum polisi juga ikut menikmati setoran hasil kejahatan pembegal.
Akibat dari lemahnya penegakan hukum terhadap berbagai aksi kriminal yang dilancarkan oleh pembegal telah menimbulkan berbagai keresahan dan gangguan keamanan di Sumatera Utara. Akibatnya geng begal justru semakin menjadi-jadi.
Anggota Komisi III DPR RI Muhammad Nasir Djamil sampai-sampai meminta kepada Kapolda Sumatera Utara (Kapoldasu) beserta jajaran, khususnya Jatanras Polda Sumatera Utara, untuk membasmi para komplotan begal yang sangat meresahkan masyarakat di Sumatera Utara maupun Binjai, dan Kabupaten Langkat tersebut.
Baca Juga: Lima Model Kerjasama Bisnis Dalam Islam
Berdasarkan informasi yang dibeberkan oleh Nasir, kondisi Medan saat ini sangat mencekam akibat adanya gangguan komplotan begal yang begitu sadis yang tega menghabisi nyawa korban dengan senjata tajam.
Secara geografis maka apa yang terjadi di Sumatera Utara secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap Kamtibmas di Aceh karena letak dua daerah ini yang berdekatan. Dikuatirkan kriminalitas akan merembet hingga ke Aceh.
Selain itu, warga Aceh banyak juga yang berpergian ke Medan untuk kepentingan bisnis dan wisata.
Masyarakat Aceh yang berkunjung ke sana rentan menjadi korban begal. Maka sangat wajar jika Muhammad Nasir Anggota DPR RI yang asal Aceh itu meminta polisi Sumut untuk mengambil tindakan tegas terhadap komplotan begal yang sudah sangat meresahkan.
Oleh karena itu masyarakat Aceh perlu mengantisipasi sejak dini agar benih-benih begal seperti di Medan tidak tumbuh di Nanggroe Aceh Darussalam. Jangan beri peluang sedikitpun bagi aksi kriminal terjadi di sekitar kita.
Ibarat kata pepatah jika api masih kecil maka segera padamkan jika tidak ingin terbakar dan berakibat fatal.
Kriminalitas yang terjadi dalam intensitas tinggi tidak saja berpengaruh buruk terhadap ketertiban sosial masyarakat, tetapi juga dapat menghambat pertumbuhan perekonomian daerah. Kejahatan yang tidak dikendalikan akan merusak tatanan sosial dan ekonomi sebuah kota bahkan dalam skala yang lebih luas dan sistemik dapat mengganggu perekonomian negara.
Moralitas dan kejahatan
Tindakan kriminal gerombolan begal yang kerap mempertontonkan aksi koboi jalanan sebenarnya menggambarkan tingkat keparahan kerusakan moral yang sedang dialami. Sementara ajaran moral mengajak manusia kepada kebaikan, sedangkan kerusakan moral (immoral) menciptakan kehancuran.
Baca Juga: Ketua Projo Sebut Jokowi Lebih Cenderung ke Prabowo
Dengan kata lain, kriminalitas dan kejahatan yang dilakukan itu dilatarbelakangi oleh tingkat moralitas yang sangat rendah. Ini bermakna bahwa setengah dari mereka bukan lagi sebagai manusia yang memiliki moral yang baik.
Kerusakan moral dapat dipicu oleh berbagai faktor, terutama faktor lingkungan.
Menurut ilmu kriminologi fase kejahatan selalu dimulai dengan pelanggaran-pelanggaran pidana kecil hingga akhirnya melakukan kejahatan besar seperti membunuh dan kekerasan lainnya. Dan sebelumnya, pada fase awal ia telah melakukan penyimpangan ajaran moral.
Nah kondisi di Aceh hari ini sangat rentan munculnya kriminalitas yang hampir serupa dengan begal di Medan. Moralitas anak-anak muda di bumi Serambi Mekah pun sedang mengalami degradasi. Indikasi itu bisa dilihat ketika tidak ada lagi rasa malu melakukan hal-hal yang bersifat intim di muka umum. Padahal perbuatan itu tergolong tabu dalam budaya masyarakat Aceh.
Kehancuran moral, ditambah dengan kecenderungan gaya hidup hedonis, dan masifnya peredaran narkoba di Aceh berpotensi turut andil munculnya berbagai kejahatan turunan, termasuk didalamnya adalah begal. Bahkan dalam beberapa kasus kriminal yang berhasil diungkap oleh kepolisian daerah Aceh telah pula melibatkan komplotan begal dari Sumatera Utara. Ini harus kita waspadai bersama.
Apalagi didukung dengan kemudahan akses jalan darat antara Medan dan Aceh dengan jarak tempuh yang singkat membuat kriminalitas dari Sumatera Utara gampang bermigrasi, yang pada akhirnya akan membentuk koloni baru jika tidak segera diatasi dan amputasi.
Oleh sebab itu, untuk mengantisipasi situasi yang lebih buruk di kemudian hari agar tidak terjadi, maka masyarakat Aceh wajib meningkatkan kewaspadaan dan kerjasama sosial yang lebih solid serta terpadu untuk memastikan keamanan lingkungan yang aman dari ancaman (begal) kriminalitas.***












