Politik

Rapai Debus Hiasi Peringatan HUT RI ke-78 di CoT Girek, Ini Sejarah Asal Rapai

88
×

Rapai Debus Hiasi Peringatan HUT RI ke-78 di CoT Girek, Ini Sejarah Asal Rapai

Share this article

PIKIRANACEH.COM – Memeriahkan HUT RI ke-78 berbagai perlombaan dan kesenian daerah di gelar oleh masyarakat, salah satunya adalah kesenian rapai debus (Dabôih)

 

Rapai Dabôih, artinya sejenis pertunjukan ketangkasan mempertontonkan kesaktian seseorang kebal dari benda tajam.

Dulunya daboih (debus) ini biasanya dimainkan oleh seorang khalifah yang memiliki ilmu kebal, ahli makrifat besi.

 

Pergelaran Rapai debus dilaksanakan oleh Muspika Plus Kecamatan Cot Girek Pada Sabtu 19 Agustus 2023 malam , dihalaman kantor pemerintahan kecamatan Cot Girek.

 

Ratusan masyarakat dari berbagai kalangan hadir menyaksikan pagelaran pertunjukan tersebut.

 

Baik dari kalangan tua, muda, dan Anak anak begitu pula kaum perempuan juga ikut menyaksikan pertunjukan tersebut.

 

Pergelaran tersebut dimeriahkan oleh dua group rapai yaitu Grub sapue pakat beurandang Tunas Desa Seupeng Kecamatan Cot Girek dan Grub raja siwah, Teupin Punti Kecamatan Syamtalira Aron.

Dikutip dari Wikipedia.org, Rapai merupakan alat musik tradisional Aceh yang ditabuh menggunakan tangan kosong, tidak menggunakan stik. Rapai biasanya berperan untuk mengatur ritme, tempo, gemerincing saat lantunan syair-syair bernuansa Islami sedang dinyanyikan.

 

Suara rapai juga membuat suasana lebih hidup, semarak dan bisa menumbuhkan semangat penonton yang sedang menyaksikan suatu pertunjukan. Rapai ini juga digunakan hampir semua seni tarik suara tradisional di Aceh.

 

rapa’i ini tidak terlepas dari peradaban masuknya Islam di Aceh. Karena rapai ini diperkenalkan oleh seorang ulama besar dari Baghdad yang menyebarkan Islam ke Aceh. 

 

Dalam beberapa catatan sejarah, rapai yang kemudian menjadi alat musik tradisional Aceh diperkenalkan oleh Syech Rapi atau ada juga yang menyebutkannya dengan Syech Rifa’i. 

 

Rapai sudah berabad abad menjadi alat musik tradisional Aceh. Rapai merupakan instrumen musik yang dimainkan dengan cara dipukul.

 

Pertama kali dimainkan alat musik di Ibukota Kerajaan Aceh pada abad ke-11 yaitu di Banda Khalifah.

 

Rapai ini terbuat dari kulit sapi atau kambing, kemudian ditempel di kayu pilihan yang sudah dibentuk bundar, sedangkan untuk melekatkan kulit tersebut biasanya diberikan lempengan dari logam. 

 

Namun rapai diberikan nama bermacam di antaranya, perbedaan itu karena ukuran dan kreasi cara memainkannya.