Politik

Keutamaan Beramal Saleh

77
×

Keutamaan Beramal Saleh

Share this article

PIKIRANACEH.COM – Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Dr H Mizaj Iskandar Lc LLM, menjadi khatib Jumat di Masjid Babul Maghfirah, Gampong Tanjung Selamat, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar, Jumat (11/08/2023).

Dalam khutbahnya, Ustadz Mizaj mengajak para jemaah untuk senantiasa berbuat baik sebagai amal saleh.

Baca Juga: Sedekah Dari Harta Terbaik

“Jika seseorang berbuat baik sejatinya adalah ia sedang berbuat baik untuk dirinya sendiri, begitu pula apabila ia berbuat kejahatan, maksiat, dan keburukan, maka perbuatan tersebut akan kembali kepada orang tersebut,” demikian diungkapkan oleh Mizaj Iskandar.

Lalu ia pun mengutip sebuah ayat Alquran yang artinya, “Jika berbuat baik, (berarti) kamu telah berbuat baik untuk dirimu sendiri. Jika kamu berbuat jahat, (kerugian dari kejahatan) itu kembali kepada dirimu sendiri,” (QS, Al Isra : 7)

Perbuatan baik itu adalah amal saleh. Setiap amal saleh akan mendapatkan balasan dari Allah SWT. Namun ada yang langsung dibalas di dunia, dan ada juga yang ditunda sementara hingga alam barzah, bahkan dengan amal saleh, Allah akan gantikan takdir buruk dengan yang lebih baik.

Amal saleh merupakan amal yang diterima dan dipuji oleh Allah SWT karena perbuatan yang dilakukan atas perintah Nya untuk agama dengan ikhlas.

Adapun pahala amal saleh yang dibalas kontan di dunia berupa keberuntungan, rizki yang baik, dan kebaikan hidup di dunia atau kehidupan yang berkah.

“Barang siapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”
(QS. An-Nahl 16: Ayat 97)

Dikisahkan, Qarun adalah seorang pemuda yang taat dan saleh. Ia hidup di zaman Nabi Musa as. Atas amal saleh yang ia kerjakan, kemudian Allah SWT memberikan dia Rizki berupa harta yang melimpah.

Konon kekayaan Qarun tidak sanggup dipikul melainkan dengan diangkat oleh orang-orang yang banyak. Setiap kali ia keluar dan membawa hartanya, maka harus diangkat oleh puluhan pemuda yang berbadan kuat.

Itu kemungkinan pertama balasan Allah SWT dari amal saleh yang dikerjakan langsung di dunia.

Namun begitu, Qarun tergelincir ketika orang-orang bertanya, bagaimana ia bisa mendapatkan harta yang begitu banyak? Qarun mengatakan semua itu adalah karena dirinya sendiri. Ia lupa bahwa harta tersebut merupakan pemberian Allah SWT karena balasan amal saleh yang pernah ia kerjakan.

Kemungkinan kedua yaitu balasan amal saleh yang telah kita kerjakan oleh Allah SWT ditunda untuk sementara waktu hingga di alam barzah. Mengapa Allah SWT menundanya? Karena jika diberikan balasan di dunia boleh jadi hal itu tidak lebih baik. Atau boleh jadi balasan tersebut menjadi pahala terbaik kita di hari akhirat kelak.

Lalu kemungkinan ketiga adalah balasan amal saleh yang telah kita kerjakan oleh Allah SWT jadikan itu sebagai jalan untuk menghapus takdir buruk menggantikan dengan takdir yang lebih baik.

“Amal saleh dapat menghapus takdir buruk yang telah Allah catatkan sebelumnya menjadi takdir yang lebih baik. Tentu saja atas kehendak Nya. Ada dua amalan yang dapat mengubah takdir buruk menjadi takdir baik yakni dengan perbanyak berdoa dan beramal saleh,” ujar Mizaj.

Selain tiga kemungkinan di atas, menurut Imam Al Ghazali masih ada kemungkinan yang keempat yakni amal saleh akan mendatangkan atau memberikan keberkahan.

Sebuah riwayat diceritakan dalam surat Al Kahfi dimana Nabi Musa as dan Nabi Khidir bergotong royong membangun sebuah rumah yang nyaris roboh. Padahal rumah tersebut kelihatan tidak berpenghuni.

Baca Juga: PJ Walikota Imran Akan Diperiksa Sebagai Saksi Kasus Penggelapan Pajak di Lhokseumawe

Nabi Musa pun agak sedikit aneh, membangun rumah dengan tidak mengambil upah. Padahal kalau diminta upah, mereka akan mendapatkan dari penduduk setempat. Namun Nabi Khidir menolak tawaran Nabi Musa. Mengapa?

“Wahai Musa, rumah anak yatim yang kita bangun ini adalah orangtuanya merupakan orang saleh, dan di bawah rumah ini tersimpan harta,” ungkap Mizaj menjelaskan.

Lantas ia mengutip sebuah ayat yang tercantum dalam Alquran surat Al Kahfi, (QS. Al-Kahf 18: Ayat 82)

“Dan adapun dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua, dan ayahnya seorang yang saleh. Maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya sampai dewasa dan keduanya mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu. Apa yang kuperbuat bukan menurut kemauanku sendiri. Itulah keterangan perbuatan-perbuatan yang engkau tidak sabar terhadapnya.”

Inilah yang dimaksud oleh imam Al Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin tentang keberkahan yang disebabkan oleh amal saleh yang dilakukan oleh orang tuanya. Keberkahan itu melingkupi anak-anaknya dan keluarga mereka.

Disebabkan amal saleh orang tua anak yatim sebagaimana digambarkan oleh Al-Quran dalam surat Al Kahfi kisah Nabi Musa dan gurunya Nabi Khidir kemudian Allah memberikan pertolongan dan keberkahan kepada anak-anak mereka.

“Jadi bukan karena hebatnya kita, tetapi boleh jadi semua itu disebabkan oleh amal saleh yang dilakukan oleh orang tua kita sebelumnya sehingga keberkahan itu turun sampai kepada kita hingga hari ini, jadi tidak ada ruginya beramal saleh,” pungkasnya.***