Politik

Eks Kombatan Komandan Kompi GAM, Kecam Keras Perilaku Oknum TNI Terhadap Warga Aceh Dijakarta

79
×

Eks Kombatan Komandan Kompi GAM, Kecam Keras Perilaku Oknum TNI Terhadap Warga Aceh Dijakarta

Share this article

PIKIRANACEH.COM – Pemuda asal Kabupaten Bireuen, Aceh Imam Masykur (25) menjadi korban penganiayaan yang berujung kematian di jakarta yang diduga dilakukan oleh tiga oknum TNI mendapatkan kecaman dari berbagai pihak.

 

 

Nasrizal (Cek Bay) Eks Kombatan Komandan Kompi GAM, mengecam keras perilaku yang dilakukan oknum Paspampres dan dua rekannya dari unsur TNI.

 

“Ini wajib di tindak tegas, karena perilaku mereka lebih kejam dan biadab dari preman. Ini tindakkan yang tidak manusiawi, sungguh tidak bisa di bayangkan kekejaman yang dilakukan,” Sebut Cek Bay yang saat ini menjabat sebagai Ketua Komisi IV DPRK Aceh Utara.

 

Aksi penculikan ini merupakan tindakan premanisme yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang oknum TNI dan hal ini telah mencoreng nama baik Institusi TNI dan membuat trauma masyarakat”, Sebut Cek Bay.

 

Lanjutnya, dimana selama ini Institusi TNI mempunyai catatan buruk di benak masyarakat Aceh akibat kekerasan yang dilakukan di masa lalu. Dan hari ini masyarakat Aceh kembali di hadapkan pada kasus ini.

 

Kasus Penculikan, Penganiayaan dan pengancaman hingga menyebabkan kematian ini adalah sederet peristiwa kegagalan institusi TNI dalam mendisiplinkan anggotanya.

 

“maka penting bagi pihak TNI untuk bekerja sama untuk mengusut tuntas kasus ini demi citra baik institusi TNI itu sendiri”. Ujarnya

 

Dirinya berharap semua pihak bekerja untuk mengusut kasus ini sampai tuntas. Supaya bisa memberikan keadilan bagi korban dan keluarganya, dan juga hukuman yang setimpal dan memberikan efek jera bagi si pelaku supaya kasus yang serupa tidak terjadi lagi kedepannya.

Sebelumnya kasus tersebut viral di media sosial warga asal Aceh itu diduga meninggal dunia setelah diculik dan disiksa oleh anggota paspampres  Praka Riswadi Manik. 

 

Dalam keterangan unggahan itu, korban sempat menelepon keluarganya dan minta dikirimkan yang sebesar Rp 50 juta. Disebutnya juga jika uang terlambat dikirim, korban akan dibunuh. 

 

Kejadian tersebut telah meninggalkan luka yang mendalam bagi keluarga dan juga masyarakat Aceh umumnya.***