Politik

Pentingnya Menerapkan Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan

73
×

Pentingnya Menerapkan Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan

Share this article

PIKIRANACEH.COM – Mengapa pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin penting untuk diperhatikan dan diajarkan oleh pemimpin pembelajaran?

“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik” (Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best).

Pesan kebijaksanaan di atas saya kutip dari Bob Talbert yang tulisan aslinya adalah dalam bahasa Inggris seperti yang Anda baca dalam kutipan tersebut.

Baca Juga: Dapat dari Kenalan di Medsos, Ibu Muda di Aceh Ditangkap Gegara Transfer Uang Palsu

Kalimat pemantik dari seorang Talbert saya jadikan sebagai pembuka tulisan sederhana ini. Semoga kita dan Anda semua pembaca yang mungkin saat ini berprofesi sebagai guru atau pendidik dapat memperoleh inspirasi dari Talbert.

Ucapan Bob Talbert itu mengandung pesan, kira-kira bahwa, penting untuk mengajarkan anak-anak keterampilan dasar seperti menghitung dan berbagai kompetensi akademis lainnya. 

Namun ada hal yang lebih penting adalah mengajarkan mereka nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang lebih tinggi atau yang dianggap terbaik dalam kehidupan.

Artinya, selain belajar untuk menghitung dan memiliki keterampilan akademis, anak-anak juga harus diajarkan tentang moral, nilai-nilai seperti kejujuran, integritas, empati, tanggung jawab, dan kualitas-kualitas lainnya yang dianggap sebagai hal yang paling berharga dalam kehidupan.

Namun tidak melupakan juga mengajarkan ilmu pengetahuan dan keterampilan teknis harus mencakup juga pembentukan karakter dan pengembangan etika.

Pesan ini mengingatkan kita untuk fokus pada pendidikan yang holistik yang mencakup aspek intelektual dan moral agar anak-anak dapat menjadi individu yang baik dan berkontribusi positif dalam masyarakat.

Education is the art of making man ethical,” (Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis), demikian dikatakan Georg Wilhelm Friedrich Hegel.

Nasehat Hegel secara tersirat sebenarnya memiliki relevansi dengan pembelajaran pengambilan keputusan, karena menggarisbawahi pentingnya mengajarkan anak-anak tidak hanya bagaimana menghitung atau memecahkan masalah secara matematis. Tetapi juga bagaimana membuat keputusan yang baik berdasarkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang benar.

Ketika anak-anak diajarkan tentang nilai-nilai seperti kejujuran, integritas, empati, dan tanggung jawab, mereka akan lebih mampu mengintegrasikan nilai-nilai ini dalam proses pengambilan keputusan mereka. Keputusan yang diambil dengan berlandaskan pada nilai-nilai ini cenderung lebih baik dalam jangka panjang.

Intinya pembelajaran pengambilan keputusan adalah bahwa pendekatan pendidikan yang holistik, yang mencakup pengajaran nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang berharga dalam kehidupan, dapat membantu anak-anak menjadi pengambil keputusan yang lebih bijaksana dan bertanggung jawab.

Baca Juga: 1,3 Triliun Dana Abadi Pendidikan Aceh Sudah 10 Tahun Tak Tersentuh

Begitu pula seorang guru tentu saja harus memiliki nilai-nilai kebaikan, kejujuran, tanggung jawab, disiplin, toleransi, gotong-royong dan nilai kebaikan lainnya dalam dirinya. Nilai-nilai tersebut adalah sebagai nilai-nilai yang berlaku secara universal dalam hidup setiap anak dan warga sekolah, dan sangat berpengaruh terhadap model pengambilan keputusan.

Melalui nilai-nilai tersebut seorang guru dan peserta didik akan terbentuk menjadi pemimpin pembelajaran yang sesungguhnya atau orisiniltas pendididik yang memiliki jati diri yang mengedepankan moralitas dan etika.

Dalam pengambilan keputusan seorang pemimpin pembelajaran dapat menggali berbagai nilai dan alternatif yang nantinya memberikan dampak positif bagi seluruh pemangku kepentingan, tidak aja pihak sekolah tetapi juga masyarakat yang terlibat dalam pembelajaran sekolah.

Pengambilan keputusan yang tepat tentunya harus dilakukan dengan berdasarkan pada fakta yang otentik, logis, objektif, dan memenuhi aspek keuntungan semua pihak yang terlibat dan dilibatkan.

Oleh sebab itu sebelum sampai pada fase pembuatan keputusan, seorang pemimpin pembelajaran harus terlebih dahulu mendengarkan masukan atau pendapat semua pihak, mengajak mereka untuk mengungkapkan alasan-alasan mengapa suatu perbuatan itu dilakukan, dan keputusan yang bagaimana yang pantas untuk diambil demi kepentingan bersama.

Berpijak pada aturan yang berlaku memang harus diprioritaskan, namun pengambilan keputusan yang tepat itu tidak selalu menggunakan pendekatan yuridis formal yang diberlakukan di sekolah yang memuat sejumlah sanksi bagi yang melanggar.

Sedangkan dalam konteks etika, perbuatan tersebut dapat dibenarkan. Artinya di sini terjadi sebuah dilema etika. 

Baca Juga: Kacabdisdik Buka Lokakarya 3 Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 8 Kota Banda Aceh

Perlu dicatat, bagi seorang pendidik atau pemimpin pembelajaran, penting sekali untuk mengedepankan pendekatan edukasi, kebijaksanaan, kejujuran dan seimbang dalam membuat sebuah keputusan.

Sehingga keputusan tersebut akan mengikat para pihak secara psikologis tanpa perlu menekankan hukuman/sanksi.

Dengan demikian keputusan tersebut akan memberikan dampak positif dalam lingkungan sekolah, dapat menciptakan suasana yang kondusif dan damai, serta pada akhirnya akan tercipta rasa aman dan melahirkan kenyamanan bagi seluruh warga sekolah, peserta didik, dan pihak lainnya.

Pengambilan keputusan yang dilakukan berlandaskan atas tiga prinsip penyelesaian dilema, yaitu Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking), Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking) ataukah Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking).

Pemilihan prinsip tersebut tentunya disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada. Meskipun setiap keputusan pasti ada risiko pro dan kontra, namun hal ini menjadikan salah satu tantangan tersendiri.

Baca Juga: Pendampingan Individu Kedua Calon Guru Penggerak SMP Negeri 2 Banda Aceh

Penting untuk disadari setiap keputusan yang dibuat oleh seorang guru akan memberi pengaruh terhadap pengajaran murid-murid atau peserta didik. Pengaruh tersebut bisa positif dan dapat pula negatif.

Namun yang lebih penting sebagai landasan dalam membuat keputusan harus mengasilkan kemungkinan semakin meningkatnya pengajaran yang memerdekakan murid.

Peserta didik harus menjadi prioritas dari para pendidik agar mereka mendapatkan hasil belajar yang lebih baik dari proses pembelajaran yang berpihak pada mereka berdasarkan perbedaan bakat, minat, gaya belajar, dan karakteristik unik yang dimiliki.***

Penulis: Yusra, S. Ag Guru Penggerak Angkatan 8 Kota Banda Aceh