Politik

Sosok Eks Ketua Partai di Aceh Kini Jadi Buronan Kasus Pembunuhan Berencana

84
×

Sosok Eks Ketua Partai di Aceh Kini Jadi Buronan Kasus Pembunuhan Berencana

Share this article

PIKIRANACEH.COM – Azwir Basyah alias Toke Wir kini jadi buronan dalam kasus pembunuhan berencana di Aceh.

Sosok Azwir Basyah merupakan eks ketua salah satu partai politik lokal (Parlok) di Aceh itu, kini menjadi buronan Kejaksaan Tinggi (Kejati) Aceh.

“Saat ini Toke Wir telah menjadi buronan berdasarkan surat nomor B-2443/l.1.27.3/Eoh.3/08/2023 tanggal 29 Agustus 2023,” kata Ali Rasab, pada Selasa Oktober 2023.

 

Toke Wir jadi buronan Kasi Penkum dan Humas Kejati Aceh, karena pada saat akan dilakukan eksekusi dia sudah tidak berada di tempat tinggalnya.

Azwir Basyah (Toke Wir) masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) karena melarikan diri.

Ia didakwa sebagai otak di balik kasus pembunuhan berencana dua petani warga Gampong (Desa) Aneuk Glee, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar.

 

Enam Terpidana Kasus Pembunuhan Berencana

Enam terpidana kasus pembunuhan berencana terhadap dua petani di Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar, dieksekusi ke lembaga pemasyarakatan (lapas) guna menjalani hukuman penjara.

Eksekusi tersebut dilakukan oleh jaksa penuntut umum Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Aceh Besar.

Selain mengeksekusi enam terpidana, jaksa penuntut umum (JPU) juga menetapkan seorang terpidana dalam daftar pencarian orang (DPO) karena melarikan diri.

 

Hal itu disampaikan Kepala Seksi Penerangan Hukum dan Humas Kejati Aceh Ali Rasab Lubis pada Selasa 3 Oktober 2023.

“Terpidana yang masuk DPO atas nama Azwir Basyah alias Toke Wir. Yang bersangkutan melarikan setelah dipanggil secara patut untuk menjalani pidana penjara,” kata Ali Rasab Lubis.

Diketahui, para terpidana diputus bersalah melakukan pembunuhan berencana terhadap dua warga Aceh Besar, Ridwan (38) dan Maimun (38).

 

Keduanya ditembak saat pulang dari kebun di Desa Aneuk Glee, Kecamatan Indrapuri, Kabupaten Aceh Besar, Kamis, 12 Mei 2022 malam.

Adapun terpidana pembunuhan berencana yang dieksekusi ke penjara tersebut yang Feriadi dengan hukuman 20 tahun penjara, Tarmizi (18 tahun penjara), Serta Zardan, Muhammad Yahya, dan Darwis, masing-masing 15 tahun penjara.

Sedangkan terpidana atas nama Nazar belum dilakukan eksekusi karena ada kesalahan redaksional dalam putusan kasasi.

 

Namun, pada pokoknya putusan kasasi sesuai dengan tuntutan jaksa penuntut umum dengan hukuman 10 tahun penjara, kata Ali Rasab Lubis.

“Terpidana Feriadi, Zardan, Muhammad Yahya, dan Tarmizi, dieksekusi ke Lapas Kelas IIA Banda Aceh. Sedangkan terpidana Darwis dieksekusi ke Lapas Kelas IIB Lhoknga di Aceh Besar. Eksekusi berdasarkan putusan Mahkamah Agung,” kata Ali Rasab Lubis.

Terkait terpidana Azwir Basyah alias Toke Wir, Ali Rasab Lubis mengatakan Mahkamah Agung dalam putusan kasasinya menghukum yang bersangkutan selama 20 tahun penjara.

Sementara, putusan Pengadilan Negeri Jantho, Azwir Basyah divonis bebas.

 

“Atas vonis bebas tersebut, yang bersangkutan dikeluarkan dari penjara. Namun, JPU mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung dan diputus bersalah dengan hukuman 20 tahun penjara. Ketika dieksekusi, Azwir Basyah melarikan diri,” katanya.

Ali Rasab Lubis mengimbau Azwir Basyah alias Toke Wir, terpidana pembunuhan berencana segera menyerahkan diri, baik di kantor kejaksaan terdekat maupun kantor penegak hukum di mana pun.

 

“Kepada masyarakat, diminta segera melapor apabila melihat terpidana Azwir Basyah. Kejaksaan juga sudah meminta pencekalan terhadap bersangkutan ke luar negeri. Kami ingatkan tidak ada tempat aman untuk buronan,” kata Ali Rasab Lubis.

Berikut Kasus Pembunuhan Paling Rumit di Indonesia Hingga Sulit Terungkap

Seperti dikutip Deskjabar.com, berikut 7 kasus pembunuhan paling rumit di Indonesia hingga sulit terungkap. Korbannya pahlawan hingga wartawan.

1. Kasus Pembunuhan Munir

Munir dikenal sebagai aktivis HAM yang paling vokal dalam membela hak aktivis yang menjadi korban penculikan. Munir pernah menangani sejumlah kasus yang cukup terkenal di Indonesia.

Salah satunya adalah kasus pembunuhan Marsinah.

Munir meninggal dunia saat dalam perjalanan dari Indonesia menuju Amsterdam, Belanda, pada 7 September 2004. Pesawat yang ditumpanginya sempat transit di bandara Changi, Singapura.

Saat pesawat GA 974 take off, seorang awak kabin melaporkan bahwa ada penumpang di kursi nomor 40G (Munir) menderita penyakit. Dia kemudian dipindahkan duduk di sebelah penumpang yang berprofesi sebagai dokter.

Dua jam sebelum mendarat di Amsterdam, Munir dinyatakan meninggal dunia. Polisi Belanda yang melakukan penyelidikan menemukan jejak senyawa arsenic di dalam tubuh Munir.

2. Kasus Pembunuhan Otto Iskandar Dinata

Siapa yang tidak mengenal Otto Iskandar Dinata seorang pahlawan Indonesia berjuluk “SI Jalak Harupat”. Pria kelahiran Bojong Soang, Bandung ini tercatat sebagai Menteri Kabinet Pertama Republik Indonesia 1945.

Pada 19 Desember 1945, Otto Iskandar Dinata diculik oleh suatu laskar yang bermarkas di Tangerang. Ia lalu dibawa ke suatu tempat yang terletak di Pesisir Pantai Mauk.

Sejak itu, Otto Iskandar Dinata tidak pernah terlihat lagi dan dinyatakan meninggal dunia.

Banyak spekulasi yang berkembang terkait kematian Otto Iskandar Dinata, baik penyebab kematiannya, bahkan mengenai dimana jasad sosok yang terkenal pemberani ini dimakamkan masih menyisakan misteri.

3. Kasus Pembunuhan Marsinah

Marsinah diketahui seorang aktivis yang bekerja sebagai buruh pabrik di PT Catur Putra Surya, Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Pada saat berusia 24 tahun, Marsinah diculik dan ditemukan telah tewas terbunuh pada 8 Mei 1993.

Mayat Marsinah ditemukan tergelatak di hutan di Dusun Jegong, Desa Wilangen. Ironisnya, jasad Marsinah ditemukan dalam keadaan penuh luka akibat penyiksaan.

Sebelum peristiwa penculikan, Marsinah pada awal Mei 1993, terlibat dalam aksi unjuk rasa yang menuntut 12 tuntutan, diantaranya adalah kenaikan upah pokok.

Selain melakukan unjuk rasa, para buruh juga melakukan mogok kerja saat itu. Marsinah kala itu menjadi salah satu perakilan dari pihak buruh yang melakukan perundingan dengan pihak perusahaan.

Selang beberapa hari kemudian, Marsinah pun diculik. Kasus pembunuhan sadis pada Marsinah bahkan tercatat dalam Organisasi Buruh Internasional. Namun, kasusnya hingga saat ini masih misterius.

4. Kasus Pembunuhan Ita Martadinata Haryono

Lagi-lagi korban pembunuhan sadis terjadi pada seorang aktivis HAM, yakni Ita Martadinata Haryono. Ia bukan hanya menjadi korban pembunuhan sadis tetapi juga misterius.

Saat itu Ita masih tercatat sebagai murid sekolah kelas 3 SMA Paskalis. Pembunuhan Ita terjadi pada 9 Oktober 1998.

Ita ditemukan di dalam kamarnya di bilangan Jakarta Pusat, dengan kondisi yang mengenaskan. Bagian perut, lengan kanan dan juga dadanya ditikam hingga 10 kali. Tak cukup samapai disitu, pada bagian leher Ita ditemukan bekas luka sayatan.

Tiga hari sebelum terjadinya peristiwa pembunuhan Ita, Tim Relawan Kemanusiaan melakukan konferensi pers menyampaikan bahwa beberapa anggota aktivisnya telah mendapatkan ancaman pembunuhan.

Terkait pembunuhan Ita, pihak kepolisian mengatakan bahwa gadis berusia 18 tahun itu hanya sebagai korban perampokan disertai kekerasan saja.

Namun, banyak yang meragukan keterangan polisi tersebut dan berasumsi bahwa pembunuhan Ita sudah direncanakan sebelumnya.

5. Kasus Pembunuhan Fuad Muhammad Syafruddin (Udin)

Udin yang berprofesi sebagai seorang wartawan asal Yogyakarta menjadi korban pembunuhan. Pada 13 Agustus 1996, Udin dilaporkan dianiaya oleh orang tak dikenal di kontrakannya.

Setelah peristiwa itu, Udin tak sadarkan diri hingga koma. Udin pun sempat dirawat di rumah sakit dan menjalani operasi otak. Namun karena kondisinya parah, Udin meninggal dunia 3 hari setelah kejadian penganiayaan.

Kasus Udin pun menjadi sorotan hingga menimbulkan kontroversi, kala Edy Wuryanto selaku Kanit Reserse Umum Polres Bantul membuang barang bukti berupa buku catatan Udi beserta sample darah.

Diduga dalam buku catatan Udin terdapat data sejumlah kasus. Edy Wuryanto akhirnya dijatuhi hukuman penjara selama 1 tahun 8 bulan.

Meski nampak kasus telah usai, tapi masih banyak orang yang percaya bahwa otak di balik pembunuhan Udin masih belum terungkap hingga saat ini.

6. Kasus Setiabudi 13

Kasus Setiabudi 13 adalah kasus mutilasi pertama di Indonesia pada tahun 1981. Dua buah kardus berisi 13 potong mayat manusia ditemukan di trotoar persimpangan jalan Setiabudi Jakarta Selatan.

Anehnya, meskipun mayat terpotong hingga 13 bagian, namun bagian wajah, telapak tangan dan kaki yang berguna saat proses identifikasi masih dalam kondisi utuh.

Namun, Polisi tidak berhasil menemukan identitas korban. Mayat pria yang diduga berusia 18-21 tahun ini hingga kini tak pernah terungkap, begitu pula dengan identitas pembunuh.

7. Kasus Pembunuhan Akseyna Ahad Dori

Kasus pembunuhan Akseyna Ahad Dori atau akrab disapa Ace ini begitu misterius. Mahasiswa Universita Indonesia ini ditemukan meninggal dunia di danau Kenanga, UI, Depok.

Mayat Ace ditemukan terapung di danau dengan mengenakan tas ransel berisi batu, pada 26 Maret 2015. Awalnya Ace diduga telah melakukan bunuh diri mengingat tas ransel yang sengaja diisi batu.

Belum lagi ditemukan surat wasiat yang diduga ditulis oleh Ace. Namun beberapa fakta membuat kasus ini mengarah pada dugaan pembunuhan.

Surat wasiat yang ditemukan diduga adalah sebuah rekayasa. Fakta lainnya ditemukan tanda kekerasan fisik yang sempat dialami Ace.

Hingga saat ini kasus kematian Ace masih misterius.***