PIKIRANACEH.COM – Pejuang Hamas melalui sayap militernya melancarkan serangan mendadak dan mematikan ke Israel pada Sabtu 7 Oktober 2023 lalu.
Hamas menyerang Israel lewat udara, laut dan darat, atau dalam istilah militer yang dikenal sebagai operasi multi-domain.
Akibat serangan tersebut telah memicu kembali ketegangan dan perpecahan di Timur Tengah. Konflik ini pun menjadi sorotan dunia Internasional.
Ada yang mengkritisi serangan tersebut menunjukkan kegagalan badan intelijen Israel dalam mendeteksi konflik.
Hingga saat ini, sudah ribuan korban tewas dalam insiden berdarah tersebut.
Bukan itu saja, konflik berdarah antara Palestina dan Israel juga menuai reaksi dari berbagai pihak, salah satunya Qatar.
Pemerintah Qatar mengambil langkah tegas untuk menghentikan serangan balasan Israel yang membabi buta ke wilayah kantong Palestina, Gaza.
Mehr News Agency pada Kamis 12 Oktober 2023 melaporkan, para pejabat Qatar mengancam akan menghentikan ekspor gas ke negara-negara di dunia jika serangan terhadap Gaza tidak berhenti.
Namun pihak berwenang Qatar belum mengonfirmasi berita tersebut sejauh ini.
Israel meluncurkaan serangan balasan ke Jalur Gaza atas Operasi Badai Al Aqsa yang dilakukan Hamas.
Warga Gaza Tolak Seruan Israel untuk Mengungsi, Dua Pilihan: Mengalahkan Pendudukan Atau Mati di Rumah Kami
Kelompok Hamas menolak seruan Israel agar 1,1 juta penduduk mengungsi dari Gaza utara, menjelang kemungkinan serangan darat Israel ke wilayah Palestina padat penduduk itu.
“Rakyat Palestina kami menolak ancaman para pemimpin pendudukan (Israel) dan seruannya agar mereka meninggalkan rumah mereka dan melarikan diri ke selatan atau Mesir,” kata kelompok Hamas dalam sebuah pernyataan, dikutip kantor berita AFP, pada Jumat 13 Oktober 2023.
“Kami tetap di tanah kami, di rumah kami, dan di kota kami. Tidak akan ada pengungsian,” imbuh kelompok perlawanan Palestina itu.
Kepala biro politik dan hubungan internasional Hamas, Basem Naim mengatakan kepada Al Jazeera, pada Jumat 13 Oktober 2023 bahwa warga Palestina di Gaza tidak akan meninggalkan tanah air mereka, meskipun Israel telah menyerukan lebih dari satu juta warga sipil untuk mengosongkan bagian utara wilayah tersebut.
“Kami mempunyai dua pilihan: mengalahkan pendudukan ini atau mati di rumah kami,” kata Basem Naim.
“Kami tidak akan pergi. Kami belum siap mengulangi Nakba lagi,” ujarnya merujuk pada pengungsian massal warga Palestina ketika Israel dibentuk pada tahun 1948.
Sebelumnya, militer Israel pada hari Jumat 13 Oktober 2023 menyerukan semua penduduk Kota Gaza untuk meninggalkan rumah mereka dan pergi menuju ke selatan wilayah itu “demi keselamatan mereka”.
“IDF (Pasukan Pertahanan Israel) menyerukan evakuasi seluruh warga sipil Kota Gaza dari rumah mereka ke arah selatan demi keselamatan dan perlindungan mereka sendiri, dan pindah ke daerah selatan Wadi Gaza seperti yang ditunjukkan pada peta,” kata militer Israel dalam sebuah pernyataan.
“Pada hari-hari berikutnya, IDF akan terus beroperasi secara signifikan di Kota Gaza dan melakukan upaya ekstensif untuk tidak membahayakan warga sipil,” imbuh militer.
Militer Israel sebelumnya telah menyatakan pihaknya sedang mempersiapkan serangan darat terhadap kelompok Hamas di Jalur Gaza, namun para pemimpin politik negara itu belum mengambil keputusan.
“Kami sedang menunggu untuk melihat apa yang diputuskan oleh pemimpin politik kami mengenai potensi serangan darat,” kata juru bicara militer Israel, Richard Hecht kepada wartawan, dikutip kantor berita AFP.
“Ini belum diputuskan… Tapi kami sedang mempersiapkan manuver darat jika sudah diputuskan,” imbuhnya.
Militer Israel telah mengerahkan ratusan ribu tentara ke perbatasan dengan Jalur Gaza, saat mereka melanjutkan serangan udara yang disebut menargetkan infrastruktur Hamas, komandan dan pusat operasi di wilayah Palestina itu.
Serangan udara tersebut terjadi sebagai respons terhadap serangan mendadak pada hari Sabtu 7 Oktober 2023 oleh Hamas, yang menyebabkan lebih dari 1.200 orang tewas di Israel.
Kampanye udara Israel sejauh ini telah menyebabkan sekitar 1.400 orang tewas di Jalur Gaza, menurut Kementerian Kesehatan Gaza yang dikendalikan Hamas. ***












