Politik

Monster Kecil Timur Tengah Dikalahkan

64
×

Monster Kecil Timur Tengah Dikalahkan

Share this article

 

“Panglima Korps Garda Revolusi Islam di Iran, Mayor Jenderal Hossein Salami, mengatakan Zionis menunggu gencatan senjata karena mereka sedang dalam krisis, namun Amerika tidak mengizinkannya”

Setelah lebih kurang selama 41 hari terjadi konflik bersenjata antara Hamas dengan tentara Negara Pendudukan “Israel” berlangsung sengit dan hebat, hari ini mulai jeda. 

Baca Juga: Setelah Menahan Galaxy Leader, Militer Yaman Lanjutkan Operasi Menyisir Kapal Zionis Israel Di Laut Merah

Kedua pihak menyepakati untuk melakukan gencatan senjata (ceasefire) selama 4 hari pada Rabu pagi 22 November 2023, dan ceasefire dimulai sejak Kamis, (23/11).

Gencatan senjata tersebut diikuti oleh rencana pertukaran tawanan sebagai imbalan bagi kedua pihak. Kemudian masuknya konvoi kemanusiaan di Jalur Gaza untuk mengatasi krisis yang semakin memburuk.

Gempuran tentara pendudukan terhadap warga sipil terutama perempuan dan anak-anak telah menoreh luka yang semakin dalam di hati rakyat Gaza, Palestina, dan umat manusia seluruh dunia yang menyaksikan.

Tercatat lebih 14.352 orang Palestina terbunuh dan ribuan lainnya terluka akibat bombardir jet tempur penjajah yang dilancarkan secara membabi buta dan brutal. Tindakan semacam ini lebih tepatnya disebut pembersihan etnis (genosida Gaza).

Aksi Genosida tersebut memang sudah terkonfirmasi dan diakui secara terang-terangan oleh Netanyahu dan pejabat negara-negara sekutunya. Artinya bukan lagi sebuah rahasia yang ditutupi.

Gaya perang yang dikobarkan oleh tentara pendudukan di era modern sangat buruk karena menargetkan non kombatan, malah membunuh bayi-bayi dan orang lanjut usia.

Perilaku setaniah (setan) ini telah memperlihatkan kepada umat manusia di seluruh dunia tentang betapa bahayanya kejahatan penjajah Israel. Kejahatan yang mengancam perdamaian dunia.

Kita dapat memperhatikan, selama hampir delapan dekade sejak Yahudi (zionis/teroris) merampas rumah dan menduduki tanah Palestina, situasi di Palestina dan Timur Tengah pada umumnya mengalami berbagai konflik yang berujung pada perang antar negara dalam kawasan.

Orang-orang Yahudi itu pandai menghasut dan memprovokasi pemimpin-pemimpin negara Arab untuk menimbulkan saling benci satu sama lain. Strategi yang ditempuh bisa lewat politik, ekonomi, dan pendekatan militer.

Kedatangan Yahudi di tengah-tengah dunia Arab dan Persia bagaikan sosok monster yang sangat ditakuti. Atas nama negara Israel, Yahudi telah bermetamorfosa menjadi kekuatan hegemoni baru di kawasan timur tengah.

Baca Juga: Korban Banjir Bandang Aceh Tenggara Blokir Jalan Nasional, Alat Berat Pemkab tak Kunjung Tiba Bersihkan Jalan

Dengan dukungan penuh Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa, “Israel” menebar teror terhadap negara-negara sekitar yang tidak sejalan dengan kemauannya. “Israel” adalah mitra strategis Amerika untuk mencapai kepentingan-kepentingan mereka di timur tengah sebagai imperialis.

Menariknya, masuknya “Israel” ke Timur Tengah, dan normalisasi “Israel”-Saudi, sering disebut-sebut sebagai bagian dari upaya AS untuk memperkuat keamanan sekutunya: yaitu untuk menawarkan perlindungan militer “Israel” kepada negara-negara Arab dalam persaingan geostrategis mereka melawan Iran.

Padahal AS justru semakin memperkuat “Israel” untuk melancarkan penjajahan nya meliputi seluruh negara-negara kawasan itu dan menguasai sumber daya alam mereka terutama gas dan minyak bumi.

Maka sangat naif dan bodoh sekali jika dunia Arab membiarkan Israel menghancurkan kawasan Timur Tengah yang dulunya damai dan penuh berkah. Sebab itu sudah saatnya negara-negara Arab untuk bersatu kembali dan mengendalikan negara pendudukan itu agar kanker jahat zionis tidak merusak seluruh sel-sel perdamaian.

Sebagai orang-orang yang beriman, melawan kejahatan Zionis Israel tentu saja wajib hukumnya. “Negara Israel” adalah entitas yang terbentuk oleh semangat terorisme dan ideologi rasisme. Pada mereka terhimpun seluruh kejahatan dan sumber kehancuran dunia.

Maka memerangi mereka menjadi tugas rasional setiap negara di dunia yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan kesetaraan. Tidak ada yang mustahil untuk dikalahkan, meskipun tidak mudah karena mereka didukung oleh negara-negara besar dan kuat.

Terbukti, dengan pertolongan Allah SWT rakyat Gaza berhasil mengalahkan musuh-musuhnya yang konon memiliki persenjataan lengkap dan dengan pasukan yang lebih banyak.

Mantan perwira intelijen Korps Marinir Amerika Serikat (AS), Scott Ritter menilai Hamas telah mencapai kemenangan besar atas militer ‘Israel’. 

Hamas secara efektif menetralisir badan intelijen ‘Israel’ yang dibanggakan, membutakan mereka terhadap kemungkinan serangan dalam skala sebesar ini (serangan mendadak 7 Oktober).

Hamas menyerang Markas Besar Divisi Gaza, pusat intelijen lokal, dan fasilitas komando dan kendali utama lainnya dengan ketepatan yang sangat mahir, kembali ke Gaza dengan membawa lebih dari 230 orang yang terdiri dari tentara ‘Israel’ dan warga sipil sebagai sandera.

Negara Teroris Israel kini dalam keadaan krisis. Meskipun kejahatan mereka tidak pernah berhenti. Namun supremasi dan hegemoni keangkuhan telah runtuh. Israel tidak lagi dapat dikatakan sebagai negara yang kuat secara ekonomi, dan memiliki sistem keamanan/pertahanan paling baik di dunia. The end.