Pikiranaceh | ACEH — Kepemimpinan di dunia pendidikan tidak hanya diukur dari kemampuan mengelola sekolah, tetapi juga dari kepedulian, keteladanan, serta hubungan baik dengan guru, siswa, orang tua, dan masyarakat. Hal tersebut menjadi gambaran yang disampaikan sejumlah warga tentang Laina Fariyani, S.E., M.M., yang akrab disapa Bu Lena. Ia dinilai sebagai sosok pekerja keras, bijaksana, dan memiliki kepedulian sosial selama menjalankan tugas sebagai kepala sekolah.
Berdasarkan keterangan sejumlah masyarakat yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan, selama kepemimpinan Bu Lena terdapat sejumlah perubahan positif di lingkungan sekolah. Salah satunya berkaitan dengan pembenahan fasilitas dan penerangan sekolah. Warga menilai perhatian terhadap kebutuhan lingkungan pendidikan tersebut menjadi bagian dari upaya menciptakan suasana belajar yang lebih baik, nyaman, dan mendukung aktivitas siswa maupun tenaga pendidik.
Kepedulian Bu Lena juga disebut tidak terbatas pada urusan administrasi dan kegiatan belajar-mengajar. Menurut penuturan masyarakat, ia memiliki perhatian terhadap siswa dari keluarga kurang mampu dan anak yatim. Sikap sosial tersebut dinilai sebagai bentuk kepedulian seorang pemimpin pendidikan yang memahami bahwa setiap siswa memiliki kondisi dan kebutuhan yang berbeda. Perhatian kepada peserta didik menjadi salah satu nilai positif yang diapresiasi oleh masyarakat.
Hubungan dengan lingkungan sekitar juga menjadi bagian dari kompetensi sosial yang dijalankan di sekolah. Warga menyampaikan bahwa Bu Lena bersama jajaran guru memiliki kepedulian terhadap masyarakat di tiga gampong sekitar sekolah, termasuk hadir dalam kegiatan takziah ketika ada warga yang meninggal dunia. Kegiatan tersebut dipandang sebagai wujud hubungan sosial yang baik antara pihak sekolah dan masyarakat, sekaligus memperlihatkan bahwa pendidikan juga dibangun melalui keteladanan dan kepedulian terhadap lingkungan.
Sejumlah masyarakat berharap berbagai kontribusi dan perubahan selama kepemimpinan Bu Lena dapat menjadi pertimbangan dalam menilai persoalan yang sedang berkembang. Mereka menginginkan agar setiap keputusan terkait kepemimpinan sekolah dilakukan secara objektif, transparan, dan berdasarkan fakta. Aspirasi masyarakat yang berharap Bu Lena tetap diberikan kesempatan memimpin juga perlu didengar, dengan tetap menghormati mekanisme dan kewenangan pihak terkait.
Di sisi lain, muncul informasi mengenai dugaan perlakuan tidak pantas terhadap siswa yang disebut melibatkan oknum guru. Informasi tersebut perlu ditelusuri secara serius melalui klarifikasi dan pemeriksaan yang adil terhadap semua pihak. Setiap dugaan perundungan atau perlakuan yang merugikan siswa tidak boleh diabaikan, tetapi juga tidak boleh langsung dianggap terbukti sebelum ada hasil pemeriksaan. Keselamatan, martabat, dan hak siswa harus menjadi prioritas utama dalam penyelesaian persoalan ini.
Menurut pantauan dan keterangan sejumlah masyarakat sekitar, Bu Lena dikenal memiliki kedisiplinan tinggi. Ia disebut kerap tiba di sekolah lebih awal, bahkan sebelum para siswa datang. Kebiasaan tersebut mendapat pujian warga karena dinilai menunjukkan tanggung jawab, keteladanan, serta kesungguhan dalam menjalankan tugas sebagai kepala sekolah.
Pada akhirnya, dunia pendidikan membutuhkan pemimpin yang berintegritas, memiliki kompetensi sosial, peduli terhadap siswa, serta mampu membangun komunikasi yang sehat dengan guru dan masyarakat. Apresiasi warga terhadap Laina Fariyani menjadi salah satu pandangan yang patut didengar, sebagaimana setiap kritik dan laporan juga harus ditangani secara terbuka.












