Ketika Kritik Berhadapan dengan Godaan Kekuasaan
Ada dua kalimat yang jika diletakkan berdampingan terasa seperti percakapan lintas zaman. Tan Malaka dikenang dengan ungkapan, “Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk.” Sementara dalam satire politik hari ini muncul permainan kata: “Kritik, kritik, dilantik.”
Keduanya sama-sama pendek, tetapi membawa kita pada pertanyaan yang panjang: untuk apa seseorang bersuara keras terhadap kekuasaan? Apakah kritik merupakan jalan membentuk kesadaran, atau justru dapat berakhir ketika sang pengkritik memperoleh tempat di dalam lingkaran yang sebelumnya ia kritik?
Satire “kritik, kritik, dilantik” tentu tidak harus dibaca sebagai tuduhan kepada satu orang tertentu. Ia lebih menarik apabila dipahami sebagai kritik terhadap fenomena politik yang lebih luas: hubungan yang sering kali rumit antara intelektual, kritik, jabatan, dan kekuasaan.
Dari Benturan Menuju Pembentukan
Ungkapan yang dilekatkan kepada Tan Malaka mempunyai daya filosofis yang kuat. Manusia tidak selalu terbentuk karena kenyamanan. Sering kali justru benturanlah yang mengubah seseorang.
Terbentur keadaan, terbentur ketidakadilan, terbentur kegagalan, terbentur kekuasaan, bahkan terbentur oleh pikiran sendiri.
Tetapi kata terakhirnya bukan terbentur.
Kata terakhirnya adalah terbentuk.
Di situlah maknanya menjadi penting. Benturan seharusnya menghasilkan kematangan. Kritik bukan sekadar kemarahan, melainkan proses menuju gagasan yang lebih baik. Perlawanan terhadap keadaan bukan hanya soal siapa yang salah, tetapi juga mengenai alternatif apa yang dapat ditawarkan.
Dalam kehidupan demokrasi, masyarakat pun mengalami proses serupa. Demokrasi tidak tumbuh dalam ruang steril. Ia dibentuk melalui perdebatan, demonstrasi, kritik pers, perbedaan pendapat, pergantian kekuasaan, dan keberanian mempertanyakan keputusan pemerintah.
Karena itu, kritik sebenarnya bukan musuh negara.
Kritik adalah salah satu alat koreksi negara.
Dari “Terbentur” Menjadi “Dilantik”
Persoalan menjadi lebih menarik ketika kritik bertemu dengan kekuasaan.
Di sinilah satire “kritik, kritik, dilantik” memperoleh relevansinya.
Dalam politik, bukan sesuatu yang mustahil seorang pengkritik kemudian masuk ke pemerintahan. Bahkan hal tersebut tidak otomatis salah. Orang yang selama bertahun-tahun menawarkan gagasan dari luar kekuasaan dapat saja suatu hari diberi kesempatan mengimplementasikan gagasannya dari dalam.
Masalahnya bukan semata-mata masuk atau tidak masuk kekuasaan.
Persoalannya adalah: apakah pikirannya ikut berubah ketika kursinya berubah?
Jika ketika berada di luar pemerintahan seseorang menuntut transparansi, apakah ketika berada di dalam ia tetap memperjuangkan transparansi?
Jika sebelumnya lantang mengkritik konflik kepentingan, apakah ketika memperoleh jabatan ia berani menerapkan standar yang sama kepada dirinya?
Jika dahulu mempertanyakan kebijakan pemerintah, apakah setelah berada di lingkaran kekuasaan ia masih bersedia mengatakan bahwa sebuah kebijakan keliru?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang jauh lebih substantif daripada sekadar memperdebatkan jabatan.
Rocky Gerung dan Tradisi Kritik
Nama Rocky Gerung selama bertahun-tahun dikenal luas dalam ruang publik Indonesia melalui kritik-kritiknya terhadap pemerintah, demokrasi, kebijakan publik, dan praktik kekuasaan.
Orang boleh setuju atau tidak dengan pandangannya. Sebagian menganggap kritiknya tajam dan diperlukan. Sebagian lainnya menilai retorikanya terlalu provokatif.
Perbedaan itu normal.
Justru demokrasi hidup ketika masyarakat tidak diwajibkan mempunyai pendapat yang sama terhadap seorang intelektual.
Namun fenomena Rocky menarik karena menunjukkan satu hal: kritik telah menjadi komoditas penting dalam ruang publik Indonesia.
Potongan pernyataan kritis dengan mudah menyebar melalui media sosial. Kalimat tajam menjadi judul. Perdebatan menjadi tontonan. Algoritma bahkan sering memberi panggung lebih besar kepada konflik dibanding argumentasi yang tenang.
Akibatnya, masyarakat perlu membedakan antara kritik sebagai gagasan dan kritik sebagai pertunjukan.
Kritik yang sehat membutuhkan data, argumentasi, konsistensi dan keberanian mempertanggungjawabkan pendapat.
Ujian Terbesar Pengkritik
Menjadi pengkritik dari luar kekuasaan relatif mudah dibanding mempertahankan prinsip ketika berada dekat dengan kekuasaan.
Sebab kekuasaan memiliki daya tarik.
Ada jabatan, fasilitas, akses, pengaruh dan kehormatan. Pada titik tertentu, seseorang dapat berhadapan dengan dilema antara mempertahankan sikap kritis atau menikmati kenyamanan posisi.
Karena itulah integritas seorang intelektual tidak cukup diukur dari seberapa keras ia berbicara.
Integritas diuji dari konsistensi antara pikiran, perkataan dan tindakan.
Jika seorang pengkritik suatu hari menerima jabatan publik, publik berhak menguji rekam jejak pemikirannya. Bukan untuk melarangnya masuk pemerintahan, melainkan memastikan bahwa gagasan yang dahulu diperjuangkannya tidak hilang setelah pelantikan.
Demikian pula pemerintah tidak seharusnya melihat pengangkatan seorang pengkritik sebagai cara untuk “menjinakkan” kritik.
Kekuasaan yang sehat justru membutuhkan orang-orang yang berani mengatakan tidak.
Demokrasi Membutuhkan Orang yang Berani Berbeda
Pemerintah yang hanya dikelilingi orang yang selalu berkata “ya” berisiko kehilangan kemampuan mengoreksi dirinya sendiri.
Sebaliknya, oposisi yang hanya mengatakan “tidak” terhadap apa pun yang dilakukan pemerintah juga dapat kehilangan objektivitas.
Demokrasi membutuhkan keduanya: kekuasaan yang mau mendengar dan kritik yang bertanggung jawab.
Karena itu, persoalannya bukan apakah seseorang berada di dalam atau di luar pemerintahan.
Yang jauh lebih penting adalah apakah ia masih memiliki keberanian berpikir secara merdeka.
Pada akhirnya, satire “kritik, kritik, dilantik” dapat menjadi pengingat bagi siapa saja—akademisi, aktivis, wartawan, intelektual maupun politisi.
Jangan sampai kritik berhenti ketika pintu kekuasaan terbuka.
Jika Tan Malaka mengajarkan bahwa benturan dapat membentuk manusia, maka politik modern memberi ujian tambahan:
Terbentur boleh. Terbentuk harus. Dilantik mungkin. Tetapi kehilangan sikap kritis jangan.
Sebab jabatan mempunyai batas waktu.
Integritas jauh lebih panjang daripada usia sebuah kekuasaan.











