Politik

Edi Obama Ajak Sejukkan MUSLIM, Dorong Transparansi Wakaf dan Beasiswa Anak Kurang Mampu

268
×

Edi Obama Ajak Sejukkan MUSLIM, Dorong Transparansi Wakaf dan Beasiswa Anak Kurang Mampu

Share this article

Bireuen — Menjelang berakhirnya masa kepengurusan Yayasan Almuslim Peusangan, tokoh masyarakat Edi Saputra atau Edi Obama mengajak seluruh elemen masyarakat Peusangan Raya menjaga suasana tetap sejuk, mengedepankan persaudaraan, serta menyikapi pelaksanaan Musyawarah Almuslim (MUSLIM) secara dewasa dan bermartabat.

Hal itu disampaikannya saat menerima silaturahmi sejumlah tokoh Peusangan di kediamannya pada Sabtu (17/10/2026).

Edi menegaskan, MUSLIM harus menjadi forum yang menjunjung tinggi mekanisme organisasi, menghormati hak pemilik mandat dan suara sah, serta menentukan kepengurusan mendatang melalui musyawarah yang adil dan terbuka.

“Mari kita sambut MUSLIM dengan lapang dada. Siapa pun yang dipercaya nantinya, keputusan harus lahir melalui mekanisme organisasi yang sah. Yang terpenting bukan siapa yang berkuasa, melainkan siapa yang mampu menjaga amanah dan membawa kemaslahatan bagi umat,” ujarnya.

Edi Obama menegaskan, kepeduliannya terhadap Yayasan Almuslim bukan didasari ambisi jabatan, melainkan tanggung jawab moral untuk memastikan aset wakaf dikelola secara transparan, profesional, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Menurutnya, masyarakat berhak memperoleh penjelasan mengenai keberadaan aset yayasan, pendapatan yang dihasilkan, serta pemanfaatan dan pertanggungjawabannya.

“Aset wakaf bukan milik pribadi atau kelompok tertentu. Ini amanah yang harus dijaga untuk kepentingan umat dan generasi mendatang. Kita bukan mencari kesalahan seseorang, tetapi ingin memastikan pengelolaannya berjalan benar dan terbuka,” tegasnya.

Ia juga menyebutkan bahwa aspirasi yang disampaikannya merupakan titipan sejumlah pemilik mandat dan suara sah yang berharap pertanyaan serta kegelisahan mereka dapat disampaikan secara bertanggung jawab.

Edi mengajak semua pihak membuka ruang dialog dan tidak menjadikan perbedaan pendapat sebagai alasan untuk saling menekan.

“Jangan takut bertanya dan menyampaikan aspirasi selama berdasarkan fakta, santun, dan beradab. Keterbukaan bukan ancaman, melainkan kesempatan untuk menunjukkan bahwa amanah dijalankan dengan baik,” katanya.

Selain tata kelola aset wakaf, Edi berharap kepengurusan Yayasan Almuslim mendatang memberi perhatian lebih besar terhadap akses pendidikan bagi masyarakat kurang mampu di Peusangan Raya.

Ia menitipkan dua harapan utama, yakni penyediaan beasiswa atau pendidikan gratis bagi anak yatim, fakir miskin, dan keluarga kurang mampu, serta keringanan biaya pendidikan di Pesantren Almuslim bagi anak-anak yang ingin memperdalam ilmu agama.

“Harta wakaf harus menjadi jalan kebaikan bagi umat. Jangan sampai anak-anak yang memiliki semangat belajar kehilangan kesempatan hanya karena keterbatasan ekonomi. Pendidikan generasi Peusangan Raya harus menjadi perhatian bersama,” ungkapnya.

Menanggapi dukungan sejumlah tokoh agama dan masyarakat, termasuk Tgk. Mukim, Tgk. Keuchik, Tgk. Imum, dan Tgk. Imum Syiek Masjid, Edi mengingatkan agar aspirasi tersebut tidak dipandang sebagai bentuk permusuhan.

Ia mengimbau seluruh pihak menghindari fitnah, adu domba, intimidasi, maupun tindakan lain yang dapat merusak persaudaraan.

“Jika ada persoalan, mari kita buka dengan jujur. Jika ada kekeliruan, mari kita perbaiki dengan lapang dada. Kita tidak perlu membenci siapa pun untuk memperjuangkan kebenaran, dan tidak perlu merendahkan siapa pun untuk menegakkan keadilan,” tuturnya.

Ia juga menegaskan bahwa pengurus yang dinilai telah menjalankan amanah dengan baik dapat kembali memperoleh kepercayaan, sementara kebutuhan pembenahan harus dibahas melalui mekanisme MUSLIM sesuai aturan organisasi.

Menurutnya, setiap putra Peusangan Raya memiliki kesempatan yang sama untuk mencalonkan atau dicalonkan sepanjang memenuhi persyaratan yang berlaku.

Di akhir keterangannya, Edi menegaskan bahwa dirinya tidak mengejar pangkat, kedudukan, ataupun jabatan. Ia berharap ikhtiarnya mendorong keterbukaan pengelolaan wakaf dapat menjadi bagian dari upaya bersama menjaga kepentingan umat.

“Saya bukan manusia yang sempurna dan tidak meminta dianggap paling benar. Saya hanya berharap niat menjaga amanah ini menjadi ikhtiar bersama untuk kemaslahatan umat. Jika pengelolaan wakaf sudah transparan, benar, dan memberikan manfaat, maka selesailah tugas moral saya,” ujarnya.

Ia menyerahkan sepenuhnya penilaian kepada para pemilik mandat dan suara sah, seraya mengajak masyarakat tetap menjaga persatuan serta mengutamakan kepentingan bersama.

“Jabatan akan berganti dan kepengurusan akan berakhir, tetapi amanah serta pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT akan tetap melekat pada diri kita masing-masing,” tutupnya.