Iran Ancam Putus Kabel Internet Bawah Laut, Dunia Digital Terancam Kacau
PIKIRANACEH.COM – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali memunculkan kekhawatiran terhadap keamanan infrastruktur komunikasi dunia. Iran mengisyaratkan kemungkinan menargetkan kabel serat optik bawah laut di Selat Hormuz jika infrastruktur negaranya diserang.
Ancaman tersebut menyoroti kerentanan jaringan komunikasi digital yang menjadi tulang punggung aktivitas internet, transaksi keuangan, layanan komputasi awan (cloud computing), hingga pertukaran data lintas negara.
Pada 19 Oktober 2026, juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Hossein Mohebbi, menyoroti keberadaan kabel-kabel internet yang melintasi Selat Hormuz. Ia menyatakan Iran akan mengungkap target dan persenjataan baru di tengah meningkatnya ketegangan dengan Washington.
Sehari kemudian, peringatan mengenai potensi penargetan kabel internet bawah laut kembali menjadi sorotan internasional. Sejumlah laporan menyebutkan bahwa pejabat Iran juga mengisyaratkan kemungkinan menyerang infrastruktur komunikasi apabila konflik dengan AS dan sekutunya kembali meningkat.
Kabel Bawah Laut Jadi Infrastruktur Strategis
Kabel serat optik bawah laut merupakan salah satu komponen terpenting dalam jaringan komunikasi internasional. Infrastruktur ini memungkinkan pengiriman data berkecepatan tinggi yang menopang berbagai layanan digital di seluruh dunia.
Menurut laporan Reuters, kabel bawah laut membawa sekitar 99 persen lalu lintas internet global. Namun, angka tersebut merujuk pada keseluruhan jaringan kabel bawah laut dunia, bukan kabel yang melintasi Selat Hormuz saja.
Kawasan Selat Hormuz sendiri memiliki sejumlah jalur kabel komunikasi yang menghubungkan negara-negara Teluk dengan jaringan internasional. Kerusakan pada jalur tersebut berpotensi mengganggu konektivitas regional, terutama bagi negara-negara yang sangat bergantung pada infrastruktur tersebut.
Dampaknya dapat berupa penurunan kecepatan internet, meningkatnya latensi, gangguan komunikasi internasional, serta hambatan pada transaksi keuangan dan layanan digital.
Tidak Otomatis Melumpuhkan Internet Dunia
Meski ancaman tersebut memicu kekhawatiran, kerusakan kabel di Selat Hormuz tidak serta-merta membuat seluruh internet dunia lumpuh.
Jaringan internet internasional memiliki banyak jalur komunikasi alternatif, termasuk kabel bawah laut lain dan jaringan darat. Lalu lintas data dapat dialihkan melalui rute berbeda, meskipun proses tersebut berpotensi menimbulkan kepadatan jaringan dan memperlambat akses di wilayah tertentu.
Komite Perlindungan Kabel Internasional (International Cable Protection Committee/ICPC), sebagaimana dikutip dalam laporan Rudaw, menyebutkan bahwa jalur Selat Hormuz menyumbang kurang dari satu persen kapasitas bandwidth internasional dunia.
Artinya, ancaman terhadap kabel di kawasan tersebut lebih berpotensi menimbulkan gangguan serius di tingkat regional dibandingkan memutus seluruh konektivitas global.
Meski demikian, dampak ekonomi tetap perlu diwaspadai. Gangguan komunikasi dapat memengaruhi layanan perbankan, pusat data, perdagangan elektronik, perusahaan teknologi, dan berbagai kegiatan ekonomi yang bergantung pada pertukaran data secara real time.
Perbaikan Kabel di Zona Konflik Tidak Mudah
Ancaman terhadap kabel bawah laut juga menimbulkan persoalan lain, yakni proses perbaikan apabila kerusakan benar-benar terjadi.
Perbaikan kabel membutuhkan kapal khusus, peralatan teknis, serta izin untuk beroperasi di wilayah perairan terkait. Apabila kerusakan terjadi di kawasan konflik, proses perbaikan dapat tertunda akibat risiko keamanan, aktivitas militer, dan kendala operasional.
Situasi tersebut dapat memperpanjang gangguan konektivitas, khususnya apabila sejumlah jalur komunikasi mengalami kerusakan dalam waktu berdekatan.
Karena itu, keamanan kabel bawah laut kini menjadi bagian penting dari perlindungan infrastruktur digital dan ketahanan ekonomi di tengah meningkatnya persaingan geopolitik.
Ancaman Iran terhadap kabel internet di Selat Hormuz menunjukkan bahwa konflik modern tidak hanya menyasar wilayah militer dan jalur perdagangan energi, tetapi juga dapat mengancam infrastruktur komunikasi yang menopang kehidupan digital masyarakat.
Sumber: Kompas.com, Reuters, Anadolu Agency, dan Rudaw.











